Showing posts with label Indonesian Transliteration. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Transliteration. Show all posts

Wednesday, February 24, 2010

The Truth and Power (Indonesian Transliteration Paper by Foucault)

Dapatkah anda secara singkat menjelaskan perjalanan yang anda lalui dari karya anda atas kegilaan di zaman Klasik sampai kajian kriminalitas dan kenakalan ?

Ketika saya belajar selama awal 1950, satu dari berbagai masalah besar yang muncul adalah status politik dari ilmu pengetahuan dan fungsi-fungsi ideologis yang dapat diberikannya. Tepatnya ini bukan usaha Lysenko yang mendominasi segalanya, tetapi saya percaya di sekitar hubungan kotor-yang sejak lama masih terkubur dan disembunyikan dengan hati-hati-di antara sejumlah besar permasalahan menarik yang menggusarkan. Semuanya ini dapat diringkas di dalam dua kata : kekuasaan dan pengetahuan. Saya percaya saya menulis Madness and Civilisation untuk mengembangkan lingkup permasalahan ini. Bagi saya, ini adalah masalah dalam menyatakan: jika, mempertanyakan ilmu pengetahuan seperti teori-teori fisika atau kimia organik, seseorang menyikap masalah hubungan-hubungan dengan struktur-struktur politik dan ekonomi dari masyarakat, bukankah orang menempatkan pertanyaan yang kompleks secara berulang-ulang? Bukankah hal ini membuat ambang batas penjelasan-penjelasan yang memungkinkan suatu ketidakmungkinan yang tinggi? Namun di sisi lain, jika seseorang mengambil bentuk pengetahuan (savoir) seperti psikiatri, bukankah pertanyaan akan lebih mudah dipecahkan, sebab bentuk epistimologis psikiatri dianggap rendah dan praktek psikiatri berhubungan dengan keseluruhan jarak institusi-institusi, syarat-syarat ekonomi, isu-isu politik dari regulasi sosial? Dapatkah jalinan efek-efek kekuatan dan pengetahuan digenggam dengan kepastian yang lebih besar dalam kasus ilmu pengetahuan yang meragukan seperti psikiatri? Ini adalah pertanyaan yang sama yang ingin saya sikapi mengenai kedokteran di dalam The Birth of Clinic: kedokteran secara pasti secara ilmiah jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan psikiatri, tetapi ia juga terkungkung dalam stuktur-struktur sosial. Yang membuat saya merasa terhentak waktu itu adalah kenyataan bahwa pertanyaan yang saya sikapi keseluruhannya gagal menarik orang-orang yang menjadi sasaran pertanyaan tersebut. Mereka menerimanya sebagai masalah yang secara politis tidak penting dan secara epistimologis murahan.

Saya kira ada tiga alasan untuk ini. Pertama adalah bagi para intelektual Marxis di Prancis (dan di sana mereka memainkan peran yang ditetapkan oleh PCF) masalah terdiri atas usaha agar mereka diakui oleh lembaga dan pranata universitas. Sebagai akibatnya mereka merasa perlu mengemukakan masalah-masalah teoretis yang sama sebagaimana yang dilakukan lingkungan akedemis, terlibat dengan masalah-masalah dan topik-topik yang sama: “Kita boleh jadi Marxis, tetapi karena kita semua adalah bukan orang yang asing dengan hal-hal yang anda perhatikan, makanya kita adalah satu-satunya orang yang mampu menyediakan pemecahan-pemecahan baru bagi pertanyaan lama anda.” Marxisme berusaha meraih pengakuan sebagai pembaharu tradisi universitas yang liberal-seperti juga, dalam kurun waktu yang sama, penganut paham komunis menampilkan dirinya sebagai orang-orang yang mampu mengatasi tradisi nasionalis. Dengan demikian di lapangan yang menjadi pusat perhatian kita kini, kemudian ada keinginan mereka untuk mengangkat masalah ‘yang paling terhormat’, yang paling akademis dalam sejarah ilmu pengetahuan : matematika dan fisika, pendeknya tema-tema yang dikenalkan oleh Duhem, Husserl dan Koyré. Kedokteran dan psikiatri bagi mereka tidak tampak sebagai hal terhormat atau serius, tidak juga berdiri pada tataran yang sama sebagai bentuk-bentuk agung rasionalisme klasik.

Alasan kedua adalah bahwa Stalinisme pasca-Stalin, dengan mengeluarkan dari wacana Marx segala sesuatu yang bukan pengulangan penuh rasa takut terhadap hal-hal yang sudah diutarakan, mereka tidak akan memberi kesempatan untuk munculnya wilayah yang belum terpetakan. Tidak ada konsep yang jadi, tidak ada istilah-istilah kosa kata yang disetujui sesuai untuk pertanyaan-pertanyaan seperti efek-efek kekuatan dari psikiatri atau fungsi politis kedokteran, sementara sebaliknya sejumlah besar pertukaran antara kaum Marxis dan akademis, dari Marx via Engels dan Lenin sampai sekarang, memupuk tradisi menyeluruh wacana tentang ‘ilmu pengetahuan’, sebagaimana istilah tersebut dipahami pada abad kesembilan belas. Harga yang harus dibayar kaum marxis atas kepercayaan mereka kepada positivisme tua merupakan ketulian secara radikal terhadap keseluruhan rangkaian pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh ilmu pengetahuan.

Akhirnya, ini adalah alasan ketiga, tetapi saya sangat tidak yakin bahwa alasan ini perlu untuk dipertimbangkan. Namun demikian saya bingung ada tidaknya alasan ini di antara para intelektual yang berada di dalam atau dekat dengan PCF yang menolak untuk mengajukan permasalahan yang berkaitan dengan rumah tangga, masalah kegunaan politis psikiatri dan pengertian yang lebih umum, masalah pola kedisiplinan masyarakat. Tidak diragukan lagi hanya sedikit yang diketahui dalam kurun 1955-1960, yang berkaitan dengan betapa pentingnya Gulag, tetapi saya yakin banyak yang dapat merasakannya, setidaknya banyak yang berfirasat bahwa sebaiknya masalah-masalah itu tidak dibicarakan: itu daerah berbahaya, dijaga dengan tanda-tanda bahaya. Tentunya, sebaliknya sulit untuk menilai tingkat kesadaran orang lain. Tetapi setidaknya, anda benar-benar tahu betapa mudahnya Kepemimpinan partai-yang telah tentunya mengetahui segalanya-dapat mengedarkan intruksi-instruksi untuk mencegah orang berbicara mengenai hal itu dan hal ini, atau mencegah diadakannya penelitian. Betapapun juga, jika permasalahan dari psikiater Pavlovian benar-benar telah didiskusikan di antara beberapa doktor yang dekat dengan PCF, ilmu politik psikiatris dan psikiatri sebagai ilmu politik susah untuk dianggap sebagai topik-topik yang patut dihargai.

Yang saya coba lakukan di dalam bidang ini cocok dengan bisunya Intelektual Kiri Perancis. Dan sekitar tahun 1968, dan disamping tradisi Marxis dan PCF, kenyataan bahwa seluruh permasalahan ini muncul untuk memperoleh signifikansi politis mereka, dengan ketajaman yang tidak pernah saya duga, menunjukkan betapa malu-malunya dan ragu-ragunya buku pertama yang saya buat. Tanpa keterbukaan politis yang dibuat sepanjang tahun, saya yakin bahwa saya tidak pernah memiliki keberanian mengangkat permasalahan-permasalahan lagi dan merampungkan penelitian saya dengan panduan teori hukum, penjara dan disiplin-disiplin.Jadi di sana terdapat ketaksinambungan yang pasti dalam batas teoretis anda.

Apa pendapat anda sekarang mengenai konsep ketaksinambungan, yang merupakan dasar sehingga anda dinamakan secara cepat diberi predikat sebagai sejarahawan strukturalis ?

Urusan mengenai ketaksinambungan agak membingungkan saya. Di dalam edisi baru Petit Larousse dikatakan : “Foucault: filsuf yang mendirikan teori sejarah di atas konsep ketaksinambungan.” Hal ini membuat saya kecewa. Jelas, saya tidak membuat diri saya cukup jelas dalam The Order of Things, lebih dulu saya sampaikan hal-hal baik di sana mengenai masalah ini. Tampaknya bagi saya bahwa dalam bentuk-bentuk pengetahuan empiris yang pasti seperti biologi, ekonomi politik, psikiatri, kedokteran, dan lain-lain, irama transformasi yang tidak mengikuti, skema-skema kaum yang percaya pada kesinambungan tentang perkembangan yang secara normal berterima. Citra biologis besar dari kematangan yang cepat dari ilmu pengetahuan tetap merupakan dasar bagi analisis-analisis sejarah yang tepat; citra ini, bagi saya, tidak tampak berhubungan dengan sejarah. Di dalam ilmu pengetahuan, sebagai contoh dari awal sampai akhir abad kedelapan belas seseorang harus yakin akan tipe wacana yang bertransformasi secara bertahap, dengan periode sekitar dua puluh lima atau tiga puluh tahun, hancur tidak hanya karena gagasan-gagasan yang ‘benar’ yang sampai sekarang dapat dirumuskan melainkan juga karena, lebih jauh lagi, dengan cara-cara berbicara dan melihat, keseluruhan tatanan pengalaman-pengalaman yang berfungsi sebagai dukungan-dukungan bagi pengetahuan kedokteran. Ini bukan penjelajahan baru yang mudah, di sana terdapat “rezim” baru yang menyeluruh di dalam wacana dan bentuk-bentuk pengetahuan. Dan semuanya ini terjadi di dalam jangka waktu beberapa tahun saja. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak, ketika seseorang telah melihat pada teks-teks dengan perhatian yang memadai. Masalahnya bagi saya sama sekali bukan dengan tujuan mengatakan, ‘Voilà, pujilah ketaksinambungan, kita berada dalam ketaksinambungan itu dan baguslah kalau begitu,” melainkan untuk mengajukan pertanyaan, ”Mengapa pada waktu-waktu tertentu dan dalam keteraturan pengetahuan tertentu pula, ada perubahan yang begitu mendadak, percepatan evolusi, transformasi-transformasi yang tidak selaras dengan ketenangan, citra sinambung yang biasanya dianggap sah? Tetapi hal yang penting di sini bukannya bahwa beberapa perubahan dapat menjadi cepat dan meluas, atau tepatnya perluasan dan percepatan ini hanyalah tanda dari sesuatu yang lain: modifikasi dalam aturan-aturan pembentukan pernyataan-pernyataan diterima sebagai kebenaran ilmu pengetahuan. Hal ini bukan merupakan perubahan isi (penyangkalan atas kesalah-kesalahan lama, pemulihan kebenaran-kebenaran lama), bukan juga perubahan bentuk teoretis (pembaharuan paradigma, modifikasi tatanan-tananan sistematis). Ini masalah tentang yang mengatur pernyataan-pernyataan, dan cara pernyataan-pernyataan tersebut saling mengatur sehingga menyusun sejumlah gagasan yang secara ilmiah berterima, sehingga memiliki kemampuan untuk dibenarkan atau didustakan melalui prosedur-prosedur keilmuan. Secara singkat, terdapat masalah mengenai rezim, politik pernyataan ilmiah. Pada taraf ini tidak terlalu bertumpu pada pengetahuan mengenai macam-macam kekuasaan eksternal yang berpengaruh pada ilmu, melainkan pada macam-macam pengaruh kekuasaan yang beredar dalam pernyataan-pernyataan yang bersifat ilmiah, berbagai hal yang membangun rezim internal kekuasaannya, dan cara serta sebab adanya modifikasi global terhadap rezim tersebut pada saat-saat tertentu.

Berbagai rezim inilah yang saya coba identifikasi dan gambarkan dalam The Order of Things, kesemuanya membuatnya jelas bahwa saya belum untuk sesaat pun mencoba menjelaskan mereka, dan penting untuk mencoba dan melakukan ini dalam kerja yang berikutnya. Tetapi apa yang kurang di sini adalah masalah dari ‘rezim yang diskursif’, sebagai efek dari kekuatan aneh ke permainan keputusan-keputusan (efek dari kekuasaan aneh yang bermain pernyataan-pernyataan). Saya sangat bingung dengan sistematisitas, bentuk teoritikal, atau sesuatu seperti paradigma. Masalah sentral yang sama dari kekuasaan ini, pada waktu saya belum secara pantas memisahkan, timbul dalam dua aspek yang sangat berbeda pada titik persimpangan dari Madness and Civilisation dan The Order Of Things.

Kita membutuhkan, untuk meletakkan dugaan dari diskontinuitas dalam konteks yang tepat. Dan mungkin di sana terdapat konsep lain yang lebih sulit dan lebih utama bagi untuk pikiranmu, konsep dari kejadian. Untuk relasi terhadap kejadian keseluruhan generasi telah lama terperangkap dalam impasse, dalam mengikuti cara kerja para ahli etnologi, beberapa orang dari mereka adalah ahli etnologi, dikotomi telah menjadi sesuatu yang tak dapat dipungkiri antara struktur-struktur (sesuatu yang dapat dipikirkan (the thinkable)) dan kejadian yang betul-betul dipertimbangkan sebagai sisi dari sesuatu yang tidak rasional, sesuatu yang tak mampu untuk dipikirkan, yang tidak masuk dan tidak dapat masuk ke dalam mekanisme dan memainkan analisa, setidaknya dalam bentuk yang diambil dalam strukturalisme. Di dalam diskusi yang dipublikasikan dalam jurnal ‘L;Homme”, tiga ahli antropologi terkemuka mengajukan pertanyaan ini sekali lagi berkaitan dengan konsep dari kejadian, dan mengatakan : kejadian adalah apa yang selalu menyelamatkan diri dari gengaman rasional kita, bidang ‘contingensi absolute’, kita adalah pemikir-pemikir yang menganalisa struktur-struktur, sejarah bukan perhatian kita-kita, apa yang dapat di harapkan harus dikatakan, dan seterusnya. Oposisi antara kejadian dan struktur ini merupakan tempat dan merupakan hasil dari antropologi pasti. Saya ingin mengatakan bahwa hal ini telah memiliki efek-efek yang menghancurkan diantara ahli sejarah yang pada akhirnya meraih titik pencapaian untuk membebaskan kejadian dan ‘évènementiel’ sebagai keteraturan yang rendah dari sejarah sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang remeh,kesempatan-kesempatan penyembuhan dan selanjutnya. Terdapat kenyataan bahwa di sana terdapat masalah nodal dalam sejarah which are neither a matter of trivial circumstances nor of those struktur-struktur yang indah yang sangat teratur, intelligible, dan transparan untuk dianalisa. Sebagai contoh, ‘penguburan besar’ yang anda paparkan dalam Madness and Civilisation mungkin merepresentasikan satu dari anggukan-anggukan yang menghindari diri dari dikotomi struktur dan kejadian.

Dapatkah anda elaborasi dari titik berdiri kita sekarang pada perubahan ini dan reformulasi konsep kejadian ?

Seorang dapat menyetujui bahwa strukturalisme membentuk usaha yang lebih sistematis untuk menolong konsep peristiwa, tidak hanya dari etnologi, tapi dari keseluruhan rangkaian ilmu-ilmu pengetahuan lain, dan dalam kasus yang ekstrem dari sejarah. Dalam pengertian seperti ini, saya tidak melihat siapa yang dapat lebih anti-strukturalis dibanding saya. Tetapi masalah terpenting adalah menolak mencoba berbuat pada konsep peristiwa yang terdahulu dilakukan dengan konsep struktur. Ini bukan masalah meletakan segala sesuatu pada satu tingkat, yang merupakan masalah peristiwa, tetapi masalah menyadari keteraturan menyeluruh dari tingkat-tingkat dari jenis-jenis yang berbeda yang berbeda-beda amplitudonya, ruang kronologis, , dan kapasitas untuk memproduksi efek-efek yang aktual.

Masalah pada awalnya membedakan antara kejadian-kejadian, untuk mendiferensiasikan jaringan-jaringan dan bagian-bagian dari mana mereka berasal, dan untuk merekonstitusi garis-garis dimana mereka dihubungkan dan menimbulkan satu lagi yang lain. Dari sini mengikuti penolakan analisa-analisa yang ditulis dalam istilah-istilah lapangan simbolis atau area struktur-struktur penanda, dan sumber untuk analisa-analisa dalam istilah-istilah genealogi relasi-relasi kekuatan, perkembangan-perkembangan strategis, dan taktik-taktik. Di sini saya percaya titik acuan seseorang tidak harus menjadi model besar bahasa (langue) dan tanda-tanda, tetapi kepada peperangan dan pertempuran. Sejarah yang membawa dan menentukan kita memiliki bentuk peperangan dibanding bahasa: relasi-relasi kekuatan, bukan relasi-relasi makna. Sejarah tidak memiliki ‘makna,’ walaupun ini bukan mengatakan bahwa hal ini absurd atau inkoheren. Kebalikannya, ini dapat dimengerti dan harus diterimashould be susceptible of analysis down to the smallest detail- tetapi hal ini sesuai dengan kedapat-dimengertian dari perjuangan-perjuangan, dari strategi-strategi , dan taktik-taktik. Tak ada dialektika, sebagai kontrakdiksi-kontrakdiksi logis, demikan juga semiotik-semiotik, sebagai struktur komunikasi, yang dapat dihitung sebagai kedapat-dimengertian intrinsik konflik-konflik. ‘Dialektika” adalah cara menghindar yang selalu terbuka dan realitas konflik yang berbahayadengan mereduksi sejarah ke dalam kerangka Hegelian, dan ‘semiologi’ adalah cara mengelak kekerasannya, bloody dan karakter yang mematikan dengan mereduksi sejarah menjadi bentuk bahasa Platonik yang tenang dan dialog.

Di dalam kontek masalah diskursivitas, saya kira seseorang dapat percaya diri mengatakan bahwa anda adalah orang pertama yang mengajukan pertanyaan kekuatan yang menghargai wacana, dan pada waktu analisa-analisa dalam istila konsep atau objek ‘teks’, bersamaan dengan penyertaan metodologi semiologi, strukturalisme, dll, were the prevailing fashion. Mengajukan wacana pertanyaan mengenai kekuatan berarti pada dasarnya bertanya wacana melayani siapa ? Ini bukan menganalisa wacana into its unsaid, ia memiliki makna yang implisit, karena (sebagaimana yang sering anda ulang) wacana adalah transparan, mereka tidak membutuhkan interpretasi, tak seorangpun memberikan mereka makan. Jika seseorang membaca ‘teks’ dengan cara yang jelas mereka merasa bahwa mereka berbicara jelas kepada kita dan tidak memerlukan supplemetary sense atau interpretasi. Pertanyaan mengenai kekuatan yang ditujukan kepada wacana secara alamiah memiliki akibat-akibat partikular dan implikasi-implikasi yang berhubungan dengan metodologi dan penelitian-penelitian sejarah kontemporer.

Dapatkah anda secara singkat meletakkan pertanyaan ini yang telah anda sikapi- jika memang benar anda telah bersikap terhadapnya ?

Saya tidak berfikir bahwa saya adalah orang pertama yang bersikap terhadap pertanyaan tersebut. Kebalikannya, saya melanggar dengan kesulitan yang saya telah rumuskan. Ketika saya berpikir ulang sekarang, saya bertanya pada diri saya sendiri apa lagi yang lain yang telah saya bicarakan, dalam Madness and Civilisation atau The Birth of The Clinic, tetapi kekuasaan ? Saya sepenuhnya sadar saya jarang menggunakan kata ini dan tidak pernah memiliki seperti lahan analisa-analisa at my disposal . Saya dapat berkata bahwa ini adalah an incapacity berhubungan tanpa kita dapat menolaknya dengan situasi politik yang kita temukan kita berada di dalamnya. Sulit melihat dimana baik Kanan atau Kiri, masalah kekuatan dapat telah disikapi. Pada Kanan, telah disikapi hanya dalam istilah konstitusi, keberdaulatan, dll, yang dalam istilah-istilah hukum : pada sisi Marxis, telah disikapi dalam istilah-istilah aparat negara. Cara kekuatan berlatih -secara konkret dan rinci- dengan spesifisitas, teknik-teknik dan taktik-taktiknya, adalah sesuatu yang tidak satu orang attempted to ascertain, they contended themselves dengan mencelanya dalam polemik dan kebiasaan global sebagaimana ia eksi di antara ‘yang lain’, di dalam daerah lawan. Ketika kekuatan sosialis Soviet ada dalam pertanyaan, lawannya disebut totaliterianism; kapitalisme barat telah dicela oleh kaum Marxis sebagai dominasi kelas; tetapi mekanisme kekuasaan mereka sendiri tidak pernah di analisa. Tugas ini hanya dapat dimulai sesudah tahun 1968, yang dikatakan berdasarkan perjuangan-perjuangan keseharian, pada taraf bawah, di antara siapa yang bertarung yang telah diletakkan dalam lubang yang baik pada jaringan kekuatan. Ini merupakan tempat dimana alam nyata dari kekuataan dapat terlihat jelas, bersamaan dengan kemungkinan bahwa analisa-analisa kekuatan ini terbukti dapat berguna dalam menghitung secara keseluruhan sampai sekarang di luar bidang analisa politis. Secara sederhana, penguburan psikiatris , normalisasi mental individu-individu, dan hal-hal mengenai hukum institusi tanpa ragu secara bebas penting jika seseorang hanya melihat signifikansi ekonomis mereka. Di sisi lain, signifikansi ekonomi, tanpa ragu, memiliki fungsi umum yang essensial di dalam menjalankan roda kekuatan. Sejauh penyikapan terhadap pertanyaan kekuatan di simpan di bawah hal ekonomi, dan sistem ketertarikan-ketertarikan yang dilayani, ada kecendrungan untuk menganggap masalah-masalah ini sebagai masalah yang kecil kepentingannya.

Jadi jenis yang pasti dari Marxism dan jenis yang pasti dari phenomenology constituted adalah rintangan yang obyektif bagi perumusan dari masalahatika-masalahatika ini ?
Ya, jika anda suka, mengembangkan, benar bahwa, dalam hari siswa kita, orang-orang dari generasi saya membawanya dalam dua bentuk analisa ini, satu dalam istilah-istilah pemilihan subyek, istilah-istilah lain dalam istilah-istilah yang bersifat ekonomi pada hal terakhir, idiologi, dan permainan superstruktur-superstruktur dan ifrastruktur-infrastruktur.

Tetap dalam kaitannya dengan kontek metodelogis ini, bagaimana anda meletakkan pendekatan genealogis ? Sebagai pertanyaan dari kondisi-kondisi yang mungkin, modalitas, dan pemilihan ‘obyek-obyek’ dan bidang-bidang yang anda analisa secara berurutan, apa yang membuatnya menjadi penting ?

Saya ingin melihat bagaimana konstitusi masalah-masalah ini dapat dipecahkan dalam kerangka kerja kesejarahan, di samping itu menunjukkan pada mereka kembali kepada pemilihan obyek (kegilaan, kriminalitas atau apapun). Tetapi kontektualisasi kesejarahan membutuhkan sesuatu yang lebih dibanding relativisasi yang sederhana dari subyek- subyek fenomenologis. Saya tidak percaya permasalah dan dipecahkan melalui sejarahisasi subyek sebagai pengajuan oleh ahli-ahli fenomenologi, memalsukan subyek yang menyusun sejarah melalui pembicaraan mengenai sejarah. Seseorang harus membuang bersama unsur pokok subyek, untuk membersihkan subyek itu sendiri, hal itu untuk mengatakan, sampai pada analisa dimana yang dapat dihitung bagi konstitusi subyek dengan kerangka kerja kesejarahan. Dan inilah apa yang saya sebut genealogy, bentuk sejarah yang dapat dihitung bagi konstitusi pengetahuan-pengetahuan, wacana-diskursu, bidang-bidang dari obyek-obyek dll, tanpa memiliki membuat referensi terhadap subyek yang memiliki relasi transendental dengan bidang dan kejadian-kejadian atau berlari di dalam kekosongan yang sama seluruhnya dalam pembicaraan-pembicaraan sejarah.
Fenomenologi Marxisdan jenis yang pasti dari Marxisme secara jelas bertingkah laku sebagai sekat dan sebagai rintangan; ada dua konsep yang berlanjut sekarang yang bertingkah laku sebagai sekat dan sebagai rintangan, idiologi pada satu sisi dan represi pada sisi yang lain. YOA
Seluruh sejarah datang untuk dipikirkan dalam dua kategori ini yang melayani untuk memberikan makna pada fenomena yang beragam sebagai normalisasi, seksualitas dan kekuasaan

And regardless of whether dua konsep ini secara eksplisit digunakan, pada akhirnya satu dari keduanya selalu datang kembali, di satu sisi idiologi- dimana mudah untuk membuat referensi ulang pada Marx- dan di sisi lain represi -konsep yang selalu digunakan oleh dikembangkan oleh Freud dalam keseluruhan pembicaraan dari perjalanan kariernya. Oleh sebab itu saya ingin mengedepankan masukan. Di belakang ke dua konsep ini dan diantara orang (pantas atau tidak pantas) yang mengembangkan konsep-konsep ini, ada semacam nostalgia; di belakang konsep idiologi, nostalgia bentuk pengetahuan yang semi-transparan, bebas dari semua kesalahan dan ilusi, di belakang konsep represi, the longing for aform of power innocent of all coercion, disiplin, dan normalisasi. Di sisi lain, kekuatan tanpa gada pemukul, dan di sisi lain pengetahuan tanpa tipu muslihat. Anda dapat menyebut kedua konsep ini, ideologi dan represi, negatif, ‘psikologis,’ ketidakcukupan analisis. Hal ini khususnya kasus dalam Disipline and Punish dimana, sekalipun tidak ada diskusi yang meluas dari konsep-konsep ini, setidaknya disana terdapat analisa-analisa yang mengizinkan orang pergi ke balik bentuk-bentuk tradisional penjelasan dan yang dapat dimengerti dengan jelas, pada akhir (bukan hanya yang terakhir)contoh pada konsep-konsep idiologi dan represi. Dapatkah anda mungkin menggunakan kesempatan ini menetapkan lebih eksplisit pemikiranmu berkaitan dengan masalah ini ? Dengan Dicipline dan Punish, jenis sejarah positif yang tampak muncul dengan bebas dari segala keseluruhan negativitas dan psikologisme implisit dalam kedua kerangka-kunci universal ini.

Pendapat mengenai idiologi kelihatan bagi saya sulit digunakan, dikarenakan tiga alasan. Pertama bahwa, suka atau tidak suka, idiologi selalu berdiri dalam posisi yang berlawanan sebelumnya dengan yang lain yang dapat dihitung sebagai kebenaran. Sekarang saya percaya bahwa masalah tidak terdiri dalam garis yang dibuatdalam wacana, yang gagal dalam kategori keilmu-pengetahuanan atau kebenaran, dan sesuatu yang hadirdi bawah kategori lain yang sama, tetapi dalam melihat secara sejarah bagaimana akibat-akibat kebenaran diproduksikan dalam wacana-wacana yang menurut mereka tak ada benar atau juga salah. Kedua adalah bahwa konsep idiologi merujuk, saya kira ini penting, kepada sesuatu keteraturan subyek. Ketiga, idiologi berdiri pada posisi sekunder dari sesuatu yang berfungsi sebagai infrastukturnya, sebagaimana bahan dasarnya, determinasi ekonomis, dll. Bagi ketiga alasan ini, saya kira pendapat mengenai idiologi ini tidak dapat digunakan tanpa kehati-hatian.

Dugaan mengenai represi lebih bersifat ke dalam, atau pada seluruhan kejadian-kejadian saya sendiri memiliki banyak kesulitan, dalam membebaskan diri saya darinya, sejauh hal ini sungguh-sungguh terlihat berhubungan dengan baik dengan keseluruhan tingkat fenomena yang termasuk di antara akibat-akibat dari kekuasaan. Ketika saya menulis Madness and Civilisation, saya membuat setidaknya kegunaan implisit dari dugaan mengenai represi ini. Saya pikir saya telah meletakkan eksistensi dan ragam kehidupan, kemampuan untuk menyuarakan dan kekhawatian kegilaan yang merupakan mekanisme-mekanisme kekuatan dan psikiatri yang mungkin hadir untuk di tekan dan direduksi ke dalam keheningan. Tetapi ini tampaknya bagi saya sekarang bahwa dugaan mengenai represi lebih tidak adekuat untuk menangkat aapa yang secara tepat merupakan aspek produktif dari kekuatan. Dalam mendefenisikan efek-efek dari sebagai represi, seseorang harus mengadopsi secara murni konsepsi yuridis dari kekuatan, seseorang mengidentifikasi kekuatan dengan hukum dari larangan. Sekarang saya percaya bahwa ini semua adalah secara keseluruhan negatif, sempit atau terbatas, kerangka konsepsi dari kekuatan, seseorang harus memiliki keingintahuan luas. Jika kekuatan tidak pernah segalanya tetapi represif, jika itu tidak pernah berlaku segalanya tetapi mengatakan tidak, apakah anda benar-benar berpikir orang akan mematuhinya ? Apa yang membuat kekuatan baik, apa yang membuatnya dterima, adalah fakta yang sederhana bahwa tidak hanya memberatkan kita sebagaimana kekuatan yang mengatakan tidak, tetapi melintasi dan menghasilkan barang-barang, ia menyebabkan kenikmatan, bentuk-bentuk pengetahuan, menghasilkan wacana-wacana.Kekuatan membutuhkan pertimbangan sebagaimana jaringan produktif yang berlari melalui keseluruhan tubuh sosial, jauh lebih dibanding hal yang negatif yang fungsinya adalah menekan. Dalam Disipline dan Punish apa yang saya ingin tampilkan adalah bagaimana, dari abad ke-17 dan abad ke-18, telah benar-benar ada pemberangkatan teknologis dalam produktivitas kekuatan. Tidak hanya monarkidari perkembangan besar pejabat negara periode Klasik (angkatan bersenjata, polisi, dan administrasi fiskal), tetapi kesemuanya telah menjadi mapan pada periode ini, apa yang orang mungkin katakan ekonomi baru dari kekuatan, yang dapat dikatakan dipoduksi yang diikuti oleh efek-efek kekuatan untuk mensirkulasikan dalam kebudayaan yang berlangsung, tidak dapat dihentikan, mampu menyesuaika ndiri dan ‘individualisasi’ melalui keseluruhan tubuh sosial. Teknik-teknik baru keduanya lebih efisien dan lebih boros ( lebih sedikit biaya secara ekonomis, lebih sedikit masalah dalam akibat-akibatnya, lebih terbuka to loopholes, dan tahan) dan teknik-teknik sebelum itu dikembangkan yang berdasarkan campuran atau campuran lebih banyak atau lebih sedikit force tolerance (dari mengenal hak sampai kriminalitas endemik) and costly ostentation ( spektakuler dan intervensi-intervensi diskontiniu dari kekuatan, bentuk kekerasan of which was the ‘exemplary,’ karena tidak utuh, hukuman).
Represi adalah konsep yang digunakan pada kita semua dalam relasi seksualitas. Ini dipertahankan bahwa masyarakat-masyarakat borjuis menekan seksualitas. Stigma dorongan seksual dan seterusnya. Dan ketika seseorang mempertimbangkan sebagai contoh kampanye melancarkan keperlawanan terhadap masturbasi di abad ke-18, atau wacana tentang homoseksualitas di masa kedua abad ke-19, atau wacana seksualitas pada umumnya, seseorang tampaknya berhadapan dengan diskursi represi. Dalam kenyataannya bagaimanapun wacana ini melayani membuat menjadi mungkin sejumlah besar intervensi-intervensi, hal-hal taktis dan intervensi-intervensi positif dari pengawasan, sirkulasi, kendali dan lain sebagainya, dimana terlihat dekat hubungannya dengan teknik-teknik yang memberikan bentuk represi, atau setidaknya dapat dibuat ke dalam interpretasi sebagai contoh. Saya percaya usaha melawan masturbasi adalah contoh tipikal dari hal ini.

Secara pasti, adalah biasa mengatakan bahwa masyarakat borjuis menekan seksualitas infantil ke suatu titik dimana seksualitas infantil ditolak bahkan untuk dibicarakan atau mengakui keberadaannya. Hal ini menjadi penting menunggu sampai Freud menemukan dan akhirnya menyatakan bahwa anak-anak memiliki seksualitas. Sekarang jika anda membaca seluruh buku pedagogi dan perawatan anak- keseluruhan panduan bagi orang tua yang dipublikasikan abad ke-18 - anda menemukan bahwa seks yang dimiliki anak-anak dibicarakan secara konstan dan dalam semua konteks yang memungkinkan. Seseorang dapat saya berdebat bahwa tujuan dari wacana ini secara tepat untuk mencegah anak-anak dari memiliki seksualitas. Tetapi akibatnya adalah kebingungan dalam benak para orang tua bahwa seks anak-anak mereka dikonstitusikan sebagai masalah fundamental dalam istilah tanggung jawab-tanggung jawab pendidikan orang tua, dan membingungkan kepala anak-anak mereka bahw hubungan mereka dengan tubuh mereka sendiri dan seks mereka sendiri akan menjadi masalah yang fundamental sejauh mereka perhatian; dan ini memiliki konsekuensi dari ketertarikan secara seksual tubuh anak-anak dimana pada waktu yang bersamaan kesulitan pandangan orang tuadan kewaspadaan pada resiko dari sekualitas infantil. Akibatnya adalah seksualisasi dari tubuh infantil, seksualisasi dari relasi antara orang tua dan anak secara tubuhi, seksualisasi bidang familial. Seksualitas jauh dari produksi positif kekuatan dibanding kekuatan yang menekan seksualitas. Saya percaya bahwa mekanisme positif ini yang dibutuhkan untuk di teliti adalah tepat, dan di sini seseorang harus membebaskan dirinya sendiri dari skematisisme yuridis dari karakterisasi sebelumnya dari alam kekuatan. Oleh sebab itu masalah sejarah bermunculan, yaitu mencari tahu mengapa kita yaitu barat bertahan begitu lama melihat kekuatan melaksanakannya sebagai yuridikasi dan negatif dibanding sebagai teknis dan positif.
Mungkin ini dikarenakan karena selalu dipikir bahwa kekuatan diantarai oleh bentuk-bentuk yang digambarakan dalam yuridikasi besar dan teori-teori filosofis, dan di sana adalah sesuatu yang fundamental, teluk yang abadi antara orang-orang yang menerapkan kekuatan dan orang-orang yang menjalani kekuatan.

Saya menduga jika hal ini tidak berkaitan dengan institusi monarki. Perkembangan selama abad pertengahan melawan latar belakang dari sebelumnya perjuangan-perjuangan endemik antara agen-agen kekuatan feodal. Monarki menampilkan dirinya sebagai referee,kekuatan mampu untuk memulai dan mengakhiri perang, kekerasan, dan penjarahan dan mengatakan tidak pada perjuangan-perjuangan dan permusuhan-permusuhan pribadi. Monarki membuat dirinya diterima dengan memindahkan yuridikasi dan fungsi negatif, sekalipun yang dibatasi yang secara alamiah telah dimulai pertama sampai melampaui. Raja yang berkuasa, hukum, larangan membentuk sistem representasi kekuatan yang perluasan selama era sebelumnya oleh teori-teori benar : teori politik tidak pernah berhenti terobsesi dengan orang dari kedaulatan. Beberapa teori terus berlanjut sekarang yang menyibukkan merek sendiri dengan masalah kedaulatan. Apa yang kita butuhkan adalah filsafat politik yang tidak muncul dari masalah kedaulatan, ataupun juga dari masalah-masalah hukum dan larangan. Kita membutuhkan untuk memotong habis kepala raja : dalam teori politik masih terus dilakukan :
Kepala raja tetap belum dipotong habis, kemudian orang mencoba menggantikannya dengan disiplin, sistem yang sangat banyak diinstitusikan pada abad ke-17 terdiri dari fungsi-fungsi dari pengawasan, normalisasi dan kendali dan, sedikit kemudian hukuman, koreksi, edukasi dan seterusnya. Orang mengira dari mana sistem ini muncul, mengapa sistem ini muncul, dan mengapa ia digunakan. Dan sekarang ada kecenderungan untuk menghubungkan subyek kepadanya, , megah, molar, subyek totaliter, disebut pemerintah modern, di konstitusikan pada abad ke-16 dan abad ke-17 dan membawa bersama subyek ( menurut kteori-teori klasik) angkatan bersenjata profesional, polisi, dan para birokrat administratif.

Mensikapi masalah dalam term-term Pemerintah berarti terus mensikapi masalah dalam term-term kedaulatan dan keberdaulatan, yang dapat dikatakan dalam term-term hukum. Jika seseorang menggambarkan fenomena kekuatan ini sebagai sesuatu yang tergantung dengan aparat negara, hal ini berarti menggenggam mereka sesuatu yang secara esensi represif : angkatan bersenjata sebagai kekuatan pembunuh, polisi dan keadilan sebagai hal-hal yang bersifat menghukum, dll. Saya bukan ingin mengatakan bahwa negara itu tidak penting; tapi apa yang ingin saya sampaikan adalah relasi-relasi kekuatan, dan oleh karena itu analisa-analisa harus dibuat oleh mereka, penting sifatnya mengembangkan dibalik batas-batas dari negara. Dalam dua pengertian : pertama karena negara, bagi kita semua memiliki kekuatan tanpa batas dari instrumentasi-intrumentasinya, jauh dari menempati keseluruhan bidang menyeluruh dari relasi kekuatan aktual, dan lebih lanjut karena negara hanya bisa beroperasi atas dasar dari orang lain, siap mengeksiskan relasi-relasi kekuatan. Negara adalah superstruktur dalam relasi terhadap keseluruhan rangkaian jarangan-jaringan kekuatan yang tertanam dalam tubuh, seksualitas, keluarga, kinship, pengetahuan, teknologi dan sebagainya. Benar, bahwa jaringan-jaringan ini berdiri pada hubungan pengkondisian-dikondisikan ke jenis dari ‘meta-power’, dimana strukturnya secara esensial mengelilingi sejumlah besar fungsi-fungsi yang menghambat; tetapi meta-power yang dihambat hanya dapat dilindungi dan aman keberadaannya ketika ia berakar dalam keseluruhan rangkaian yang beragam dan relasi kekuatan indefinite yang menyediakan dasar penting untuk bentuk-bentuk dasar kekuatan. Hal ini adalah apa yang saya telah coba jelaskan dalam buku saya.

Bukankah ini membuka kemungkinan melemahnya dualisme perjuangan-perjuangan politis yang secara abadi merupakan santapan oposisi antara negara di satu sisi dan revolusi di sisi lain ? Bukankah ini menandakan lebarnya bidang konflik-konflik jika dibanding that of those where the adversary is the state ?
Saya akan mengatakan bahwa negara terbuat dalam kodifikasi dari sejumlah besar relasi-relasi kekuatan yang mengembalikan fungsi negara memungkinkan, revolusi adalah jenis kodifikasi yang berbeda dari relasi-relasi yang sama. Hal ini berdampak pada banyaknya jenis-jenis revolusi. Kasarnya dikatakan sebagaimana banyak jenis revolusi sebanyak kemungkinan rekodifikasi-rekodifikasi suversif dari relasi-relasi kekuatan, dan selanjutnya seseorang dapat secara sempurna menyusun revolusi-revolusi yang meninggalkan secara esensial tidak tersentuh relasi-relasi kekuatan yang bentuknya untuk pem-fungsian dari negara.

Anda telah mengatakan tentang kekuatan sebagai obyek dari penelitian yang seseorang mencoba membalikkan rumusan Clausewitz sesampainya pada ide bahwa politik adalah kontinuasi peperangan melalui makna-makna lain. Apakah model militer tampak olehmu ada pada dasar dari apa-apa yang anda teliti sekarang untuk menggambarkan dengan tepat kekuatan; apakah model militer adalah peperangan hanya sebagai model metaforis, atau ia adalah literal, reguler, atau bentuk operasi kekuatan sehari-hari ?

Masalah ini sekarang saya temukan saling bertentangan. Segera seorang mencoba memisahkan kekuatan dengan teknik-teknik dan prosedur-prosedur dari bentuk hukum yang secara teoritis telah dibatasi sampai sekarang, seseorang dipaksa untuk menanyakan pertanyaan mendasar : bukankah kekuatan secara sederhana merupakan bentuk warlike domination ? Apakah seseorang harus membayangkan kesemua masalah kekuatan dalam term-term relasi-relasi perang ? Bukankah kekuatan adalah sekumpulan peperangan yand digeneralisasi yang diasumsikan pada waktu-waktu terpisah bentuk-bentuk damai dan negara ? Kedamaian kemudian dapat sebagai bentuk dari perang, dan negara berarti of waging it.
Keseluruhan batas masalah-masalah muncul di sini. Siapa yang perang melawan siapa ? Hal ini antara dua kelas, atau lebih ? Apakah ini peperangan dari semua melawan semua ? Apa aturan angkatan bersenjata dan institusi-institusi militer dalam masyarakat sipil where permanent war is waged ? Apa perlunya konsep taktik-taktik dan strategi untuk menganalisa struktur-struktut dan proses-proses politik ? Apa inti dari mode transformasi relasi-relasi kekuatan ? Semua pertanyaan ini mesti di gali. Dalam banyak kasus adalah mengherankan melihat betapa mudahnya dan betapa percaya dirinya orang berbicara relasi-relasi kekuatan perang atau perjuangan kelas tanpa membuatnya tampak jelas bagaimana bentuk dari peperangan, and if so what form.

Kita telah membicarakan mengenai kekuatan disipliner yang memiliki akibat-akibat, aturan-aturan, dan jenis konstitusi yang telah anda kemukan dalam Disiplin and Punish. Seseorang mungkin bertanya di sini, megapa pengawasan ? Apa kegunaan pengawasan ? Sekarang di sana terdapat fenomena yang muncul dalam abad ke-18, dinamakan penemuan populasi sebagai obyek penelitian keilmuan; orang-oranng mulai menanyakan angka kelahiran, angka kematian dan perubahan-perubahan populasi dan berkata untuk pertama kali bahwa tidak mungkin untuk memimpin negara tanpa mengetahui populasi. Moheau 5 sebagai contoh, merupakan sat diantara orang-orang pertama yang mengorganisasikan jenis penelitian pada basis administratif, sepertinya mencoba melihat tujuan sebagai lying ini masalah-masalah kontrol politik populasi. Disiplin and Punish selanjutnya bertindak sendiri dan terhadap dirinya sendiri, atau doesn’t it rather tarikan dukungan dari sesuatu yang lebih umum, dilihat dari namanya konsepsi yang sulit dari populasi yang mereproduksi dirinya dalam cara yang tepat, menyusun orang-orang yang bergabung dalam cara yang tepat, dan berhubungan dalam cara yang tepat, sesuai ketepatan norma yang ditentukan ? Seseorang kemudian memiliki pada satu sisi jenis global , tubuh molar, tubuh populasi, bersamaan dengan rangkaian menyeluruh dari wacana-wacana yang memiliki perhatian terhadapnya dan kemudian di sisi lain and down below, tubuh-tubuh kecil, the docile, tubuh-tubuh individu, tubuh-tubuh kecil disiplin. Walaupun jika anda mungkin hanya pada awal dari penelitian-penelitian yang anda lakukan, dapatkah anda mengatakan bagaimana anda melihat hubungan-hubungan yang alamiah (jika ada) yang timbul antara perbedaan tubuh-tubuh ini: tubuh molar dari populasi dan tubuh kecil dari individu- individu ?
Pertanyaanmu tepat sekali mengenai sasaran.6 Saya sulit menjawab karena saya bekerja pada masalah ini sekarang. Saya percaya seseorang harus memperhatikan dengan serius fakta dengan semua penemuan-penemuan teknis mendasar dan menelusuri abad ke-17 dan abad ke-18, teknologi baru dari latihan kekuatan selalu muncul yang mungkin lebih penting dibanding pembentukan konstitusional-konstitusional dan bentuk baru pemerintah-pemerintah yang mapan pada akhir abad ke-18. Di tempat Kiri, orang selalu mendengar orang lain mengatakan bahwa kekuatan adalah abstrak, meniadakan tubuh, yang me-represi, yang men-supresi dan seterusnya. Saya memenemukan sebagian besar teknologi-teknologi baru kekuatan yang dikenalkan sejak abad ke-17 dan abad ke-18 bersifat mencolok adalah kejelasan dan ketepatan karakter mereka, penguasaan mereka terhadap realitas yang beragam dan dapat dibedakan. Dalam masyarakat feodal kekuatan digunakan secara esensi melalui tanda-tanda dan pajak. Tanda-tanda kesetiaan terhadap tuan-tuan feodal, ritual-ritual, seremoni-seremoni, dan seterusnya, dan pajak dalam bentuk restribusi-restribusi, penjarahan, perburuan, perang, dan lain-lain. Pada abad ke-17 dan ke-18 bentuk kekuasaan berkembang yang dimulai dari penerapan kedalam produksi sosial dan pelayanan sosial Bentuk kekuasaan menjadi hal mendapatkan pelayanan yang bersifat produktif dari individu-individu dalam kehidupan mereka yang nyata. Dan maka karena itu, penggabungan yang nyata dan efektif dari kekuasaan adalah penting, dalam pengertian bahwa kekuasaan memiliki kemampuan untuk mendekati jalan masuk ke tubuh-tubuh individu, ke tingkah laku mereka, sikap dan gaya bertingkah lakku sehari-hari. Sebab itu metode-metode yang sesuai seperti disiplin sekolah yang berhasil membuat obyek tubuh sebagai sistem manipulasi dan pengkondisian yang bersifat sangat kompleks milik anak-anak .
Tetapi pada waktu yang sama, teknik-teknik kekuatan baru ini bergulat dengan fenomena populasi, cara singkat menjalankan administrasi, kendali dan mengarahkan akumulasi manusia (sistem ekonomi yang meningkatkan akumulasi kapital dan sistem kekuatan yang mentasbihkan akumulasi manusia, dari abad ke-17, berhubungan dan fenomena yang tidak dapat dipisahkan); oleh sebab itu muncul permasalah demografi, kesehatan masyarakat, kebersihan, kondisi-kondisi rumah, usia lanjut dan fertilitas. Saya percaya bahwa signifikansi politis dari masalah seksual adalah seksual diletakkan pada nilai intersection dari disiplin tubuh dan kontrol populasi.
Akhirnya, pertanyaan yang telah anda tanyakan sebelumnya; pekerjaan yang anda lakukan, keasyikan-keasyikan anda, hasil-hasil yang ada, apakah kegunaan pada akhirnya membuat kesemuanya ini dalam perjuangan-perjuangan politis sehari-hari. Anda telah berbicara sebelumnya perjuangan-perjuangan lokal sebagai tempat yang spesifik dari perlawananan dengan kekuatan, di luar dan di balik semua yang global, hal-hal umum sebagai partai atau kelas-kelas. Apa dampaknya ini secara tidak langsung pada aturan intelektual ? Jika seseorang tidak merupakan tingkah laku intelektual ”hidup” sebagai pembicara bagi organisasi global, jika seseorang tidak mengaku berfungsi sebagai pengbawa, guru kebenaran, posisi apa yang dipikul intelektual ?

Untuk periode yang lama, intelektual kiri telah berbicara dan diakui memiliki hak berbicara dalam kapasitas sebagai guru kebenaran dan keadilan. Dia mendengar, atau isi yang membuat mereka sendiri mendengar, sebagai pembicara dari keseluruhan. Menjadi intelektual berarti menjadi sesuatu seperti kesadaran atau hati nurani bagi kita semua. Saya kira kita memiliki usul mengobah urutan dari Marxisme, dari marxisme yang sungguh-sungguh memudar. Hanya sebagai preletar, dengan keperluan situasi historisnya, adalah kosongdari keseluruhan (tetapi cepat, kosong yang tidak dapat direfleksikan, barely concios of itself as such), maka intelektual melalui moralitasnya, pilihan secara teoritis dan secara politis bercita-cita menjadi pembawa keseluruhan ini dalam kesadaran, menyatukan bentuk. Intelektual demikian sebagai penjelas, sosok individu dari universalitas yang tak jelas, bentuk kolektif yang diwujudkan dalam proletar.
Beberapa tahun telah berlalu sejak kaum intelektual dipanggil untuk memainkan peran ini. Mode baru dari “hubungan antara teori dan praktek” telah mapan. Para intelektual harus memenggunakannya untuk bekerja, tidak dalam modalitas dari “universal”, the ‘exemplary’, ‘hanya sesuatu yang benar untuk semua’, tetapi dalam sektor-sektor spesifik, pada poin-poin tepat dimana kondisi-kondisi kehidupan atau kerja mereka mengatur mereka (perumahaan, rumah sakit, asilum, laboratorium, universitas, keluarga, dan relasi-relasi seksual). Hal ini tanpa ragu memberi mereka secara lebih cepat dan kesadaran konkret dari perjuangan-perjuangan. Dan mereka telah beertemu dengan masalah-masalah yang spesifik, ‘bukan uinversal’, dan sealalu berbeda dari bentuk proletar atau massa. Dan akhirnya saya percaya kaum intelektual secara aktual dekat dengan proletar dan massa, untuk dua alasan. Pertama, karena ianya mempertanyakan sesuatu yang nyata, material, perjuangan sehari-hari, dan kedua karena mereka selalu ditentang, sekalipun dalam bentuk yang berbeda, oleh musuh yang sama sebagai proletar, disebut korporasi multinasional, aparat hukum dan polisi, spekulator-spekulator properti, dll. Ini yang saya sebut sebagai kaum intelektual “spesifik” sebagai lawan dari intelektual “universal.

Konfigurasi baru ini memiliki signifikansi politis. Konfigurasi ini menungkinkannya mungkin, jika tidak untuk menyatukan, setidaknya untuk mengartikulasi ulang kategori-kategori yang secara jelas tetap terpisah. Intelektual par excellence harus menjadi penulis; sebagai kesadaran universal, subyek-subyek merdeka, dia adalah lawan dari intelektual yang hanya kompeten dalam melayani negara atau kota, teknisi, hakim, guru. Sejak waktu dimana masing-masing aktivitas spesifik individu mulai melayani dasar-dasar politisasi, ambang menulis, sebagai area yang sakral bagi kaum intelektual, telah lenyap. Dan ia menjadi mungkin untuk mengembangkan koneksi-koneksi lateral antara bentuk-bentuk berbeda dari pengetahuan dan dari fokus politisasi orang ke orang yang lainnya. Hakim dan psikiater, dokter dan pekerja sosial, teknisi laboratorium dan sosiolog menjadi mungkin untuk turut serta, baik dalam lahan mereka sendiri dan melalui pertukaran yang menguntungkan dan dukungan, dalam proses global politisasi dari intelektual. Proses ini menjelaskan bagaimana, sekalipun sebagai penulis yang hilang sebagai pemimpin yang bukan sebenarnya, universitas dan akedemi yang muncul, jika bukan sebagai elemen-elemen yang dasar, setidaknya sebagai “penukar”, privileged points of intersection. Jika universitas dan pendidikan secara politis telah menjadi area yang ultra sensitif, tanpa ragu alasannya kenapa. Dan apa yang disebut sebagai krisis universitas tidak harus di interpretasikan sebagai hilangnya kekuatan, tetapi secara berlawanan sebagai multiplikasi dan penguatan kembali efek-efek kekuatan mereka sebagai pusat dalam a polimorphous ensemble of intelectuals yang terlihat kesemuanya lepas melalui dan berhubungan sistem akedemik. Keseluruhan teorisasi menulis yang relevan yang kita lihat dalam tahun 1960 tanpa ragu hanyalah nyanyian angsa. Melaluinya, penulis telah berjuang bagi perlindungan hak-hak politis mereka; tetapi kenyataannya bahwa hal ini tepatnya adalah mengenai teori, mereka membutuhkan kepercayaan keilmuan, didasarkan dalam lingustik, semiologi, psikoanalisa, yang teori ini mengambil acuan dari Saussure, atau Chomsky, 7 dll, dan memberikan hasil-hasil literatur yang sedang-sedang saja. Semuanya ini membuktiakan bahwa aktivitas menulis tidak lagi terarah pada benda-benda.

Tampak bagi saya bahwa bentuk intelektual ‘spesifik’ telah muncul sejak perang dunia kedua. Mungkin bentuk ini adalah saintis atomis (dalam kata, atau dalam nama : Oppenheimer) yang bersikap sebagai transisi poin antara universal dan spesifik intelektual. Hal ini disebabkan karena bentuk ini memiliki relasi langsung dan relasi lokasi terhadap pengetahuan saintifik dan institusi-institusi yang saintis atomis dapat membuat intervensinya, tetapi, sejak zaman nuklir mempengaruhi keseluruhan ras manusia dan kebajikan dunia, wacana para saintis atomis pada saat yang sama merupakan wacana universal. Di bawah rubik protes ini, yang berkonsentrasi pada keseluruhan dunia, ahli atomis bermain dalam posisi spesifiknya dalam keteraturan pengetahuan. Dan untuk pertama kali, saya kira kaum intelektual diburu oleh kekuatan-kekuatan politis, tidak lama dalam perhitungan wacana-wacana umum yang ia pimpin, tetapi karena pengetahuan di pembuangan dirinya; ini pada taraf bahwa ia membentuk perlakuan politis. Saya hanya berbicara di sini mengenai intelektual-intelektual barat. Apa yang terjadi di uni Soviet analog dengan ini dalam beberapa poin, tetapi berbeda dalam banyak hal. Hal ini secara pasti adalah studi menyeluruh yang harus dilakukan dari saintis yang tidak sepakat di barat dan negara-negara sosialis sejak tahun 1945.

Mungkin menduga bahwa intelektual ‘universal’, sebagaimana ia berfungsi dalam abad 19 dan awal abad 20 diturunkan dari bentuk historis spesifik, manusia dari keadilan, manusia dari hukum yang berlawanan dari kekuatan, despotisme, dan pelecehan dan arogansi dari keadilan universal dan kesmaan dari hukum-hukum ideal. Perjuangan politis besar dari abad 18 adalah berjuang melawan hukum, hak, konstitusi, pemikiran dan hukum, yang dapat dan harus dapat diterapkan secara universal. Apa yang kita sebut sekarang ‘intelektual’ (saya maksud intelektual dalam politik, bukan dalam kata dengan pengertian sosiologis, dengan kata lain seseorang yang menggunakan pengetahuannya, kompetensinya, dan relasinya dengan kebenaran dalam medan perjuangan politis) saya kira adalah keturunan dari ahli hukum, atau dalam taraf tertentu adalah orang-orang yang meminta universalitas hukum, jika perlu melawan profesi-profesi legal mereka ( Voltaire, di Prancis, merupakan prototipe dari sejumlah intelektual). Intelektual ‘universal diturunkan dari ahli hukum, dan ditemukan manifestasinya secara utuh dalam diri penulis, nilai-nilai dan signifikansi-signifikansi kosong dalam keseluruhan yag dapat mengenali mereka. Intelektual ‘spesifik diturunkan dari figur yang lain, bukan ahli hukum atau notaris, tetapi dari sarjana atau para ahli. Saya mengatakan bahwa saintis atomis merupakan figur terakhir yang datang ke garis depan. Tanpa ragu saintis atomis beserta Darwin atau dengan ahli evolusi pasca Darwinisme figur ini menjadi lebih jelas. Hubungan yang tidak akur antara evolusionis dan sosialis, sebaik efek ambigu yang besar dari evolusionisme (dalam sosiologi, kriminologi, psikiatri, dan genetika, sebagai contoh)tanda waktu-waktu penting ketika sarjana mulai mencampuri perjuangan-perjuangan politis kontemporer atas nama kebenaran saintifik ‘lokal’- biarpun penting keadaan berikutnya. Secara sejarah, Darwin menunjukkan perubahan sejarah intelektual barat (Zola sangat sesuai untuk menjelaskan hal ini : ia adalh tiper intelektual ‘universal, mendukung hukum dan dan militan terhadap kesederajatan, tetapi dia membalas wacananya dengan keseluruhan doa dari nosologi dan evolusionisme, yang ia percaya akan menjadi ilmiah, menggenggam dengan lemah dalam semua masalah, dan efek-efek politis dari wacananya terlalu senada). Jika seseorang telah mempelajari hal ini secara dekat, seseorang harus mengikuti bagaimana fisikis, pada perubahan zaman, masuk kembali ke dalam medan debat politis. Debat-debat antara teoris-teoris sosialisme dan teoris-teoris relativitas sangat penting dalam sejarah ini.

Pada seluruh kejadian-kejadian, biologi, fisika adalah taraf hak-hak istimewa zona pembentukan kepribadian baru, intelektual ‘spesifik. Pengembangan struktur tekniko-saintifik dalam area ekonomi dan strategi adalah penting. Figur dimana fungsi dan wibawa dari intelektual baru ini dikonsentrasikan tidak lagi ‘penulis genius’ tetapi ‘sarjana absolut’ tidak lagi dia yang menjunjung nilai-nilai semua orang, berlawanan dengan penguasa yang berlaku tidak adil atau pemimpin dia dan membuatnya menangis walaupun dalam kuburnya. Hal ini lebih pada orang yang membantu orang lain, memiliki pada tempat pembuangannya, walaupun dalam melayani negara atau menentangnya, kekuatan yang dapat menguntungkan ataupun dapat menghancurkan hidup. Dia tidak lagi sebagai orang yang gembra akan keabadian, tetapi ahli strategi hidup dan mati. Sementara itu kita pada saat ini mengalami kehilangan figur ‘penulis besar’.

Sekarang mari kembali lebih cermat. Kita menerima, perkembangan struktur-struktur tekniko-saintifik dalam masyarakat kontemporer, hal-hal penting yang berhubungan dengan intelektual spesifik dalam masa sekarang, sebagaimana peningkatan proses ini sejak tahun 1960. Sekarang intelektual spesifik menahan rintangan yang jelas dan berhadapan dengan bahaya-bahaya yang pasti. Bahaya mengingat pada bagian perjuangan secara prakiraan, menekan tuntutan yang ketat dari sektor-sektor yang khusus. Resiko akibat meninggalkan intelektual spesifik dimanipulasi oleh partai politik atau anggota perkumpulan yang mengendalikan perjuangan-perjuangan lokal. Di antara keseluruhan hal tersebut, resiko menjadi tidak mampu untuk mengembangkan perjuangan ini untuk terhambat dari stategi global atau dukungan luar; resiko tidak diikuti, atau tidak oleh kelompok-kelompok terbatas. Di Prancis kita dapat melihat contoh dari hal ini. Perjuangan disekitar-penjara-penjara, sistem pengadilan dan sistem yuridis-polisi, dikarenakan hal ini dikembangkan ‘dalam kesendirian’, di antara pekerja-pekerja sosial dan eks napi yang cenderung secara meningkat memisahkannya dari kekuatan yang mampu membuatnya berkembang. Ia mengijinkan dirinya dirasui oleh keseluruhan yang naif, ideologi kuno yang membuat pelaku kriminal pada suatu saat adalah korban yang tak berdosa dan pemberontak sejati-kambing hitam masyarakat- dan srigala muda revolusi-revolusi yang akan datang. Hal ini kembali kepada tema-tema anarkis abad 19 yang mungkin hanya karena kegagalan integrasidari strategi-strategi sekarang ini. Dan akibat adalah perpisahan yang dalamantara kampanye yang monoton, nyanyian sederhana secara lirikal, di dengar hanya di antara beberapa kelompok kecil, dan masssa dengan alasan baik tidak memerimanya sebagai secara politis valid, tetapi adalah seseorang yang selalu- berterimakasih kepada ketakutan kriminal-toleran terhadap usaha-usaha untuk mengelola, atau lebih menguatkan, dari yuridikasi dan aparat-aparat polisi.

Hal ini tampak bagi saya bahwa kita sekarang ada pada poin dimana fungsi dari intelektual spesifik dibutuhkan untuk dipertimbangkan. Dipertimbangkan bukan di batalkan, di samping nostalgia dari beberapa intelektual-intelektual universal besar dan keinginan terhadap filsafat-filsafat baru, sebuah sudut pandang dunia baru. Mencukupi untuk mempertimbangkanakibat-akibat penting yang dikembangkan dalam psikiatri: mereka membuktikan bahwa lokal, perjuangan-perjuangan spesifik tidak memiliki kesalahan dan tidak memandunya ke batas akhir. Seseorang dapat saja mengatakan bahwa aturan intelektual spesifik harus lebih dan lebih penting dalam proporsi tanggung jawab politis yang ia mengharuskan mau tak mau diterima, sebagaimana saintis nuklir, ahli computer, farmakolog dll. Akan menjadi kesalahan yang fatal menyederhanakannya secara politik dalam relasi yang spesifik terhadap bentuk kekuatan lokal, ataupun juga dengan hal-hal mendasar yang hal ini adalah para spesialis yang tidak perhatian terhadap massa (yang secara ragu salah, mereka telah menyadari hal ini, dan di dalam kasus berimplikasi dengannya), atau intelektual spesifik melayani keinginan dari negara atau kota (yang benar, tetapi pada saat yang bersamaan menampilkan posisi strategi yang ia kuasai), atau, sekali lagi, pada dasar bahwa dia mempropagandakan ideologi saintifik (yang tidak selalu benar, dan adalah berbagai hal secara pasti ha-hal sekunder yang dibandingkan dengan poin mendasar: efek-efek tepat terhadap wacana-wacana yang tepat).

Hal terpenting di sini adalah, saya percaya adalah kebenaran tidak berada diluar kekuatan, atau tersimpan dalam kekuatan; berlawanan dengan mitos bahwa sejarah dan fungsi-fungsi akan membayar ulang studi, kebenaran bukan merupakan hadiah dari jiwa-jiwa yang bebas, kesendirian anak yang berlarut-larut, tidak juga hak orang-orang yang berhasil membebaskan diri mereka sendiri. Kebenaran adalah benda di dunia ini, ia dihasilkan hanya dengan kebaikan dari bentuk-bentuk beragam dari ketegangan. Dan ia menyebabkan efek-efek regular kekuatan. Setiap masyarakat memiliki gerime kebenaran, ‘politik-politik umum’ kebenaran; yang merupakan bentuk-bentuk wacana yang diterima dan dilaksanakan sebagai benar; mekanisme-mekanisme dan hal-hal yang mampu bagi seseorang untuk memisahkan atau pernyataan yang benar dan pernyataan yang salah, makna-makna yang dengannya disetujui, teknik-teknik dan prosedur yang mempertimbangkan nilai dalam penerimaan kebenaran; status seseorang yang dihitung sebagai perkataan atau dihitung sebagai benar.

Dalam masyarakat seperti masyarakat kita,’ekonomi politis’ kebenaran ditandari melalui lima sifat dasar. ‘Kebenaran ‘ yang berpusat pada bentuk wacana saintifik dan institusi-institusi yang menghasilkannya; kebenaran adalah subyek perangsang ekonomi dan politik(permintaan kebenaran; sebanyak bagi produksi ekonomis dengan kekuatan politis); kubenaran dalah obyek, dibawah bentuk yang beragam, difusi yang besar sekalidan konsumsi (beredar melalui aparat pendidikan dan informasi yang pengembangannya secara relatif besar dalam tubuh sosial, bukan dengan pembatasan-pembatasan yang kaku); kebenaran yang menghasilkan dan memindahkan di bawah kendali, dominat jika tidak ekslusif, beberapa aparat politik dan ekonomi yang besar (universitas, angkatan bersenjata, tulisan, media); terakhir kebenaran adalah isu bagi keseluruhan debat politis dan konfrontasi sosial (perjuangan-perjuangan ‘ideologis)
Tampak bagi saya bahwa apa yang sekarang harus diperhitungkah dalam intelektual adalah bukan ‘pendukung nilai-nilai universal’. Lebih pada orang yang menguasai posisi spesifik, tetapi secara spesifik berhubungan, dalam masyarakat seperti kita, terhadap fungsi umum pejabat kebenaran. Dalam kata lain, intelektual memiliki tiga batas secara spesifik: terhadap posisi kelasnya (sebagai borjuis kecil dalam meyani kapitalisme atau intelektual proletar ‘organic’); kondisi hidup dan bekerjanya, berhubungan dengan kondisinya sebagai intelektual (medan penelitiannya, lokasi laboratoriumnya, tuntutan politis dan ekonomis yang ia ajukan atau ia lawan dengan pemberontakan, dalam universitas, rumah sakit dll); terakhir, secara spesifik politik-politik kebenaran dalam masyarakat kita. Dan dengan faktor terakhir ini posisinya dapat mengambil signifikansi umum dan bahwa lokal yang ia miliki, perjuangan spesifik dapat memiliki akibat dan implikasi-implikasi yang tidak sederhana profesional atau sektoral. Intelektual dapat dilakukan dan perjuangan pada taraf yang umum dari regime kebenaran yang esensial bagi struktur dan fungsi dalam masyarakat kita. Di sana ada pertempuran ‘untuk kebenaran’, atau setidaknya ‘disekitar kebenaran’- yang dapat dipahami sekali lagi dengan kebenaran yang bukan saya maksudkan “ensembel kebenaran yang dicari dan diterima’ tetapi lebih pada ‘ensembel aturan-aturan yang mempertimbangkan yang mana yang benar dan salah terpsah dan efek-efek kekuatan spesifik menyentuh kebenaran’, yang dapat dimengerti bukan selalu sebagai pertempuran ‘pada setengah’ kebenran, tetapi peperangan mengenai status kebenaran dan aturan ekonomis dan politis yang ia mainkan. Penting untuk berpikir masalah-masalah politis dari intelektual bukan dalam hal ‘ilmu pengetahuan’ atau ‘ideologi’ tetapi dalam hal ‘kebenaran’ dan ‘kekuatan’. Dan pertanyaan profesionalisasi intelektual dan pembagian antara intelektual dan bekerja dapat dipertimbangkan dalam cara baru.

Semua ini tampaknya membingungkan dan tak pasti. Pasti tidak pasti, dan apa yang saya katakan di sini semuanya dapat dianggap sebagai hipotesis. Dalam mengaturnya menjadi sedikit membingungkan, walaupun demikian, saya ingin meletakkan beberapa buah ‘proposisi’- bukan untuk menegaskan, tetapi gagasan sederhana yang harus dites dan dievaluasi.
“Kebenaran’ dapat dimengerti sebagai sistem keteraturan prosedur fari produksi, regulasi, distribusi, sirkulasi, dan pelaksanaan pernyataan-pernyataan’.
‘Kebenaran berhubungan dengan relasi sirkuler dengan sistem kekuatan yang menghasilkan dan mengaturnya, dan mempengaruhi kekuatan yang menghasilkan dan yang mengembangkannya. Regime kebenaran.
Regime ini buka merupakan bersifat idiologis atau superstruktural; ia adalah suatu kondisi formasi dan perkembangan dari kapitalisme. Dan di dalam regime yang sama, subyek melaksananakn perubahan, dilakukan dalam negara-negara sosialis (Saya meninggalkan pertanyaan mengenai China, yang saya ketahui sedikit).

Masalah mendasar secara politis bagi intelektual bukan mengkritik isi dari idiologi yang dapat berhubungan dengan ilmu pengetahuan, atau memastikan bahwa praktek saintifik di dukung oleh ideologi yang tepat, tetapi mengetahui kemungkina dari pembentukan politik kebenaran yang baru. Masalah tidak merubah kesadaran orang-orang- atau apa yang ada dalam kepala mereka- tetapi politik, ekonomi, regime institusi dari produksi kebenaran.

Ini bukan hal mengenai emansipasi kebenaran dari setiap sistem kekuatan (yang dapat sebagai gagasan yang masuk akan, bagi kebenaran adalah kekuatan) tetapi menyentuhkan kekuatan kebenaran bentuk dari bentuk-bentuk hegemoni, sosial, ekonomi, kultural, yang dengannya berjalan pada waktu kini.

Pertanyaan polits, dijumlahkan, bukanlah salah, ilusi, memisahkan kesadaran atau ideologi; ini adalah kebenaran itu sendiri. Sebab itu penting oleh Nietzsche.

Hermeneutic Ontologic (Paper about one of Hans-George Gadamer's Works in Indonesian Language)

Edisi pertama berbahasa Jerman karya Hans-Georg Gadamer, Wahrheit und Methode (Truth and Method), terbit pada tahun 1960. Sejak itu gerakan fenomenologi menoleh pada bahasa sebagai manifestasi pokok di mana seseorang mengkonstruksi dunianya. Pergeseran ke arah bahasa dikembalikan dari bagian yang sama sekali berbeda seperti model linguistik struktural yang mulai diterapkan pada teori-teori antropologi dan sastra (bandingkan Pettit, 1975). Tesis asli fenomenologi, yang menyatakan bahwa makna muncul sebagai suatu yang ada sebelum ada kesadaran dalam bertindak. Hal ini mengisyaratkan bahwa bahasa muncul dalam arti tertentu sebelum ada ujaran. Gadamer yang mengikuti Heidegger, berusaha menjelaskan pandangan ini melalui pengalaman bahasa. Dalam bukunya Truth and Method, ia mempertahankan istilah tertransformasi yang menggunakan paham Heidegger, untuk menggambarkan tugas filosofis baru. Bukunya mempunyai pengaruh langsung. Lebih dari yang lainnya, di mana Gadamer menjadikan hermeneutika sebagai label yang mengidentifikasikan bentuk filsafat baru.

Epilog dalam edisi ketiga buku Truth and Method, Gadamer mengatakan bahwa ia memilih judul bukunya dalam suatu semangat polemik yang disengaja. Karena kalimat yang dipisahkan oleh kata “dan” menunjukkan “ketegangan” tertentu (Spannung). Ia ingin menantang secara konstruktif langkah maju dari metode-metode empiris untuk menuju wilayah ilmu-ilmu humaniora. Dalam diskusi ini, seperti halnya edisi pertama, muncul banyak orang yang akan menghadapinya.

Di antara mereka yang ingin mengadopsi perspektif hermeneutika dari humaniora, berkembang dua orientasi filsafat. Keduanya dapat dibedakan dengan label “krisis” dan “ontologis”. Habermas adalah pendukung utama orientasi krisis, sedangkan Gadamer adalah pendukung utama orientasi ontologis. Tentu saja, menerapkan istilah “krisis” pada karya Habermas tidaklah dimaksudkan untuk mengatkan bahwa analisa Gadamer itu agak longgar. Dalam konteks ini istilah “krisis” dipilih untuk menunjukkan suatu hubungan yang lebih dekat dengan pemikiran Kantian yang menyatakan syarat pengetahuan yang dapat dipercaya dengan kecenderungannya mencari berbagai model ilmu empiris dan komparatif. Ia juga menyatakan keberatannya bahwa makna yang diberikan tidaklah dapat dipercaya sesuai dengan artinya. Agaknya ada nada agresif dalam hermeneutika “krisis” ini. Habermas, misalnya, dalam pidato pengukuhannya pada tahun 1965 di Frankfurt menyimpulkan bahwa pencarian kebenaran saat ini dapat dikejar “hanya dengan runtuhnya ontologi” (KI: 317).

Bagaimanapun juga, perdebatan itu mempunyai banyak persamaan seperti halnya dalam pertengkaran suatu keluarga: apa yang mereka setujui sama banyak denagn apa yang mereka gugat. Hal ini bertahan secara khusus untuk kesepakatan dalam titik epistimologi, bahwa pemisahan Kant terhadap subjek dan objek tidak dapat dipertahankan, dan bahwa jenis epistimologi dialektis itu sangat penting; mereka juga setuju pada pada titik moral; yaitu sangatlah lemah bila pengetahuan tidak bergerak dengan dorongan intrinsik menuju aplikasinya.
Walaupun judul bukunya demikian, karya Gadamer tidaklah bersifat anti-metodologis, sebagaimana sering ia protes. Ia memang berargumen bahwa pretensi metodologi apa pun (positivistik atau bukan) adalah “buta” kalau memandang dirinya sebagai epistemologi yakni menghilangkan syarat kebenaran (the true) menjadi syarat yang benar (the right) dari sebuah aplikasi teknik (Gadamer, edisi Jerman, 1975, “Nachwort”: 518); dan Gadamer memandang Habermas dalam penilaian itu. Gadamer memandang karyanya sebagai usaha untuk memenuhi aspirasi metodologi yang terdalam. Di bawah metode, Gadamer ingin menjelaskan syarat-syarat yang mendasar bagi munculnya kebenaran yang bukan sekadar suatu teknik tentang sesuatu yang dilakukan subjek—melainkan sebagai akibat dari sesuatu yang “terjadi tanpa kemauan kita dan sesuatu yabg terjadi di luar tindakan kita” (Gadamer, edisi Inggris; 1975a: xvi;selanjutnya disingkat TM). Pikirnya, hanya dengan cara inilah, orang-orang mazhab Kant yang berperan sebagai hakim, dapat diusir. Kemudian, dijalaskan metodenya sendiri bahwa tidak dapat menggunakan teknik deduksi atau teknik induksi. Ia haruslahbercorak fenomenologis yaitu sebuah metode deskriptif yang menyoroti dan menyaring secara tetap pengalaman (bandingkan TM: xiv-xv).

Truth and Method adalah karya yang sulit dan mempunyai pandangan yang luas. Orang hampir tidak dapat berlaku adil pada babnya. Misalnya, “pengalaman” yang disebut-sebut dalam paragraf di atas memasukkan berbagai olah refleksi filosofis yang dilakukan dalam karya para ahli filsafat besar Barat;; sejak Plato hingga Heidegger. Gadamer membicarakan mereka dengan panjang lebar dadn membuat pernyataan interpretasi yang seringkali orisinal, sekalipun tidak arbitrer atau eksentrik. Tetapi ada alasan lain yang membuat karya Gadamer sulit dibaca oleh pembaca filsafat dengan tradisi bahasa Inggris. Hal ini akan sangat membantu menunjukkan betapa pentingnya hal ini diungkapkan. Inilah konsep tentang kebenaran.

Konsep Gadamer tentang Kebenaran

Hampir menjadi aksioma bagi para pembaca filsafat di pihak Atlantik untuk memikirkan kebenaran sebagai suatu atribut kalimat, bukan atribut sesuatu. Inlah sebuah poin yang disetujui Wittgenstein terkemudian dengan yang sebelumnya. Ini tampak masuk akal. Jika seseorang mengatakan, memang benar bahwa keponakannya telah menggoreng telor untuk sarapan pagi itu, maka pengakuan kebenaran itu tidak menambah rincian lain bagi manusia, masakan, atau karakteristik temporaldari peristiwa yang dilaporkan, tetapi hanya menegaskan keyakinan pembicara bahwa deskripsi linguistikk yang dikemukakan ihwal peristiwa itu memang akurat. Dengan kata lain, tambahan “benar” atau “salah” pada sebuah kalimat tidak menambah apa-apa pada deskripsi yang dikemukakan kalimat itu tentang realitas eksternal.
Dalam pandangan seprti ini, baik “benar” atau “salah” masuk dalam permainan hanya pada akhir dari suatu proses yang dimulai dengan mengalami, melalui cara penataan kesan konseptual dan menyampaikannya dalam suatu ucapan. Hanya pada pengucapan inilah berlaku predikat-predikat ini.

Gadamer setuju dengan kekuatan versi kebenaran ssemantik ini manakala terbatas pada ruangnya sendiri. Tetapi, ia membantah bahwa hal ini harus berpijak pada kekuatan versi kebenaran lainnya—sebuah versi ontologis. Dalam terminologi Gadamer, versi semantik itu mengabdi pada perpecahan anatar kesadaran dan penegasan yang merupakan hasil dari tindakannya. Tetapi, bagaimana dengan pengalaman yang merupakan pendorong orisinal pada penegasan ini? Tidak bisakah “benar” dikatakan tentang hal itu? Jika tidak, maka tampaknya mustahil untuk tidak mengatakan bahwa kesadaran memasukkan dirinya sendiri, baik secara Kantian maupun nominalistik, antara pengalaman dan kebenaran; dan dalam kasus ini, apa yang dapat ditinggalkan dari obyektifitas yang dituju ilmu?

Dengan kata lain, jika “kebenaran” hanya diterapkan pada kalimat, maka ia berperan hanya sebagai efek samping dari sesuatu yang kita lakukan. Misalnya, kita memang mempersepsi sesuatu dan kita mengatakan, “Itu adalah pohon apel.” Yang demikian itu mungkin ddiseut dengan “kebenarann intuitif”. Tetapi dalam konteks ilmiah, kalimat-kalimat yang padanya berlaku kata”benar” adalah hasil ari berbagai argumen dan eksperimen—bahkan lebih sempit lagi, sesuatu yang kita lakukan. Inilah yang ingin ditantang Gadamer dalam eksklussivitasnya: ada kebenaran, menurut hamatnya, yang terjadi “di atas keinginan dan tindakan kita”. Kita selalu berasumsi, “Kita menemukan kebenaran.” Gadamer mengemukakan asspek lainnya, “Kebenaran menemukan kita.”

Bagaimanapun juga, Gadamer beranggapan, kita harus memikirkan kembali tesis pertengahan konvertibilitas kebenaran dan wujud—bahwa di mana yang satu berlaku, yang lain berlaku juga. Tugas bukunya adalah menunjukkan bahwa bukan hanya kebenaran dan ekspresi, melainkan juga kebenaran dan realitas sajalah yang berjalin berkelindan, dan ini terjadi sebelum ekspresi. Cara di mana kebenaran dapat melekat dalam suatu “ketertentuan yang bukan merupakan obyek dari tindakan-tindakan intensionalnya itu sendiri” (TM: 216) haruslah jelas. Dalama pandangan Gadamer, kebenaran muncul denganotoritasnya sendiri dalam kesadaran, dan kesadaran, sejauh terteentu, bersifat pasif dalam penerimaan ini. Bagaimana pandangan ini dapat diklarifikasi? Heidegger, menurut hemat Gadamer, menunjuk analisa-analisa kita dalam arah yang benar.Konsep Gadamer tentang kebenaran di atas menjadi pemicu timbulnya permasalahan dalam karya sastra, yaitu masalah-masalh seperti pemahaman teks dan niat penulis.

Masalah Pemahaman Teks dan Niat Penulis: Gadamer lawan Hirsch

Tidak semua peneliti sastra modern setuju dengan usaha penghilangan pengarang dan niatnya, yang terutama sangat kuat dalam kalangan New Criticism di Amerika Serikat dan umumnya dalam gerakan otonomi, yaitu aliran yang mengotonomkan karya sastra sebagai struktur dalam kata. Di Nederland baru-baru ini H.A. Gomperts, ahli sasstra dan pengritik sastra terkenal dalam buk kecil menentang apa yang disebutnya depersonalisasi sastra dalam teori-teori modern (1979). Katanya, tidak ada teks yang tidak diceritakan oleh seorang manusia, dan manusia itulah penulis cerita itu. Memang benarlah penulis itu mungkin mempunyai dan memakai banyak suara, benar pula ia dapat menyembunyikan diri, tetapi hal ini tidak berarti bahwa dia tidak ada lagi. Tidak ada sebuah tekspun tanpa titik aku, yakni aku si penulis, kata Gomperts. Dan menurut dia berbahayalah usaha strukturalisme dan aliran modern lainnya yang ingin meniadakan penulis itu, sebab kecenderungan ini ssama dengan kecenderungan politik atau birokrasi modern, yang juga mengorbankan individu dan kepribadian manusia demi cita-cita atau norma-norma praktis maupun utopis. Dalam masyarakat modern terdapat, bahkan berkuasa kecenderungan untuk menghapuskan yang konkret dan yang indivvidual, tetapi sastradan seni mengambil hak yang utama dari kekonkritannya, dari kepribadian seorang manusia yang terungkap di dalamnya. Akhirnya yang penting bukanlah fokalisator atai instansi naratif atau implied author, seperti yang ditonjolkan oleh aliran strukturalis tertentu, melainkan manusia yang hidup, yaitu ppenulis dalam keunikannya.

Tetapi masalah interpretasi karya sastra serta hubungan antara maksud karya itu dengan niat penulis, denikian juga dengan peranan pembaca dengan ssituasinya yang berbeda dengan situasi penulis sebenarnya sejak lama telah menjadi pokok pikiran ahli sastra dan ahli filsafat, dan tetap menarik minat pada tataran teori yang lebih luas. Soal semacam ini merupakan salah satu masalah utama dalam teori dan diskusi mengenai hermeneutik. Sejauh mana kita mengenal kembali (recognize, Erkennen) maksud seorang penulis? Mungkinkah kita mencapai pemahaman sejauh tteks yang obyektif dan seratus persen “benar””? Ataukah pemahaman kita selalu sebagian ditentukan dan dibatasi oleh tempat kita sendiri dalam ruang dan waktu, sehingga historisitas pemahaman kita adalah sesuatu yang tak terhindar?

Seorang ahli pemikir yang secara prinsip menyangkal kemungkinan pemahaman obyektif adalah Hans-Georg Gadamer dalam sebuah buku Wahrheit und Methode (Kebenaran dan Metode 1960), sangat terkenal dan berpengaruh luas. Tesis dasar Gadamer mengatakan bahwa maksud sebuah teks harus dibedakan dnegan maksud penulisnya. Tesis ini dikaitkan dengan pandangan bahwa teks tertulis adadlah pemakaian bahasa dengan ciri khas: teks tertulis, demi ketertulisannya, mempunyai kehidupan sendiri, lepas dari penulis maupun pembaca. Dan interpretasi teks itu oleh seorang pembaca tak dapat tidak berarti pemberian makna sesuai dengan situasi si pembaca. Teks itu sungguh bersifat otonom—di sini persesuaiannya dengan aliran otonom dalam kritik sastra—dan interpretasi selalu nerupakan yang sering diseebut oleh Gadamer Horizontverschmelzung, pembauran cakrawala: dalam proses pemahaman oleh seorang pembaca berlangsung pembauran cakrawala, perpaduan antara masalampau di mana teks tercipta dan masa kini si pembaca. Tetapi hal ini dalan pandangan Gadamer tidak berarti kesubyektifan pembaca selaku seorang individu saja: sebab pemahamannya ikut ditentukan oleh situasinya dalam sejarah, yaitu oleh keseluruhan proses sejarah secaraobyektif. Jadi si pemaham dan penafsir selalu berada dalam tradisi interpretasi yang tak dapat tidak ikut menentukan pemahaman dia sendiri. Bagi Gadamer obyektifitas diberikan dalam tradisi kesejarahan.

Namun pendirian ini tidak umum diterima di kalangan ilmuwan. Barangkali tak kuranglah ahli teori sastra atau ahli filsafat secara umum, yang mempertahankan pendirian bahwa tugas seorang pemaham dan penafsir yang menghadapi sebuah teks pertama-tama adalah menafsirkan teks situ ssebagaimana dimaksudkan oleh penulis. Seseorang yang mempertahankan pandirian ini dengan sangat tegas dan teguh adalah E.D. Hirsch, terutama dalam buku yang berjudul Validity in Interpretation (Keabsahab dalam Penafsiran 1967). Bagi Hirsch Gadamer, demikian para New Criticism dan lain-lain (walaupun dari latarbelakang yang berbeda) dengan melepaskan arti sebuah teks dari maksud penulisnya pada prinsipnya menyangkal ataupun meniadakan pemahaman yang obyektif. Jika benarlah setiap penafsiran terjadi perpaduan antara teks dan sikon kesejarahan pembaca tertentu, tidak mungkin lagi dicapai pemahaman dan penafsiran yang sungguh valid, absah. Sebaliknya Hirsch mengemukakan pendapat bahwa dalam identitas arti teks dengan maksud penulisannya terdapat dasar yang kuat untuk mencapai penafsiran teks yang sungguh ilmiah, jadi dapat diveriffikasi. Walupun verifikasi dalam teks sastra tidak dapat dilakukan secara eksperimantal, seperti dalam ilmu-ilmu alam, melainkan melalui proses pendekatan kebenaran yang berangsur-angssur dan yang akhirnya berdasarkan atasprinsip “probability”. Validition, pengabsahan, demikianlah kata Hirsch, adalah “an objective conclusion about relative probabilities” (Hirsch 1967: 172: kesimpulan obyektif mengeenai probabilitas yang nisbi). Dalam interpretasi teks tidak pernah dapat dibuktikan bahwa hanya sebuah interpretasi saja yang mutlak dan seluruhnya benar dan absah; tetapi walaupun tidak dapat dibuktikan bahwa cita-cita seratus persen dapat dicapai, namun cita-cita itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Justru identifikasi karya sastra dengan maksud penulis memberi jaminan bahwa arti itu determinate, genah, dan tugas penelitian ilmiah adalah justru menentukan arti yang genah itu setepat mungkin.

Menurut Hirsch Gadamer membuat kekeliruan prinsip dengan tidak membedakan meaning dan significance, edeutung und Sinn, arti dan makna. Meaning adalah sesuatu yang determinate, genah, niat penulis seperti terkandung dan terjelma dalam tulisannya, dan itulah sesuatu yang dapat diteliti dan dipastikan secara obyektif. Significance, makna, adalah hubungan antara arti dan seorang atau sesuatu di luar teks, praktisnya antara arti dan pembaca dalam situasinya yang kahs pada masa tertentu. Benarlah makna itu sesuattu yang variabel, terus berubah. Dan dalam kritik, (sastra) diungkapkan penilaian arti darii segi pendirian, sisten nilai dan lain-lain pada pihak pembaca, yang sudah tentu relatif-subyektif dan berubah-ubah terus. Tetapi mneyamaratakan artidengan makna berarti meniadakan perbedaan antara understanding, pemahaman dan kritik. “The object of interpretation is tetual meaning in and ffor itself and may be called the meaningof the text. The object of criticism…is that meaning in its bearing on something else (standards of value, present concerns, etc.), and this project may therefore be called the significance of the text” (id. 211:Objek penafsiran ialah arti teks demi danuntuk arti itu sendiri; obyek ini dadpat disebut arti teks. Obyek kritik …ialah arti dalam kaitannyadengan sesuatu yang lain (tolak ukur nilai, masalah aktual), maka obyek itu dapat disebut makna sebuah teks).

Hakikat Pengalaman Bahasa

Jausz mengintroduksi konsep Edwartungshorizont, horison harapan pembaca dari Gadamer : setiap pembaca mempunyai horison harapan, yang tercipta karena pembacaannya yang lebih dahulu, pengalamannya selaku manusia budaya, dan seterusnya. Fungsi efek, nilai sebuah karya sastra untuk pembaca tertentu tergantung pada relasi struktur, ciri-ciri dan anasir-ansir karya itu dengan horison harapan pembaca. Pembaca, khususnya pembaca modern dalam kebudayaan Barat, ingin dan berharap agar dia terkejut, digoncangkan oleh hal-hal baru, yang memecahkan atau menggeserkan horison harapannya.

Horiso-horison yang disebutkan diatas adalah struktur-struktur yang secara efektif melibatkan kita. Kita memahami kepasifan di dalam struktur-struktur itu. Kita tidak mengambilnya dengan bebas. Hanya saja, pada waktu yang bersamaan, struktur-struktur ini mempunyai kemungkinan untuk membuat variasi dan ekspansi. Semua itu memberi kita sebuah sudut pandang yang di dalmnya perbedaan da variasi dapat digerakkan dan dikenali. Struktur-struktur mempunyai karakter yang senpurna, seperti kenyataan, tetapi pada saat yang sasma ia mempunyai ciri penyidik, seperti halnya pertanyaan. Bentuk terakhir ini menjadi sangat jelas ketika salah satu horison mapan kita berhubungan dengan horison lain yang sangat berbeda. Seperti yang terjadi ketika kita menjalin hubungan dengan kebudayaan lain atau harus menerjemahkan suatu bahasa asing.

Ada kesan bahwa horison-horison ini berfungsi seperti bahasa yang secara efektif juga melibatkan kita, tetappi pada waktu yang sama, memungkinkan adanya prsepsi dan penciptaan makna. Jika seseorang memperoleh kesan ini, maka ia akan menyimpulkan bahwa pemahaman pada tataran efeltif yang dibicarakan oleh Gadamer mempunyai ciri bahasa. Gadamer mengambil langkah ini. “Kita menegaskan bahwa pengalaman makna yang terjadidalam pemahaman senantiasa melibatkan aplikasi. Sekarang kita harus mencatat bahwa ssemua proses ini bercorak linguistik” (TM: 345).

Gadamer mengatakan bahwa ketika ia menemuinya, konsep Wittgenstein tentang permainan bahasa “cukup alami” baginya (TM: 50, catatan kaki no. 12). Gadamer, seoerti Wittgenstein, setuju bahwa bahasa memberi kita sebuah dunia sebagai suatu aktivitas di mana bahasa dan dunia muncul pertama kali, dan bukan suatu instrumen yang sungguh-sungguh kita gunakan untuk mengukir dunia (bandingkan Gadamer, 1976: 126). Tetapi Wittgenstein, dalam usahanya menolak dalil “permainan” transendental atau tata bahasa, meninggalkan pluralitas permainan bahasa manusia dalam keterasingan satu sama lain, dan agaknya tergantung pada pengulangan perilaku dalam proses belajar untuk dapat menjelaskan bagaimana seseorang dapat belajar permainan bahasa lain (bandingkan Gadamer, 1976, pengantar Linge hlm. Xxxvii; bandingkan Apel, 1976: 39). Akan tetapi, Gadamer berpandangan bahwa proses belajar bahasa kita yang pertama, bukan merupakan yang utama dan jauh kurang dari sifat eksklusif. Sasran dari Wittgenstein, persoalannya bukan perhatian kita (atau yang diarahkan orang lain), tetapi persoalan itu adalah sebuah peristiwa, atau sejenis drama, yang meletakkan obyek “pada skala kata-kata” (TM: 359). Dalam arti ini, kata yang sebenarnya dibentuk adalah citra (image) atau simbol dan bukan tanda yang ditentukan secara konvensional. Konsekuensinya, awal mula seseorang belajar bahasa sebenarnya adlah suatu proses belajar; bukan hanya tentang bahasa tertentu, melainkan juga tentang apa proses belajar bahasa itu. Sebagaimana dikemukakan oleh Linge dalam kata pendahuluan bukunya, “Belajar bahasa pertama kita dan belajar bahasa-bahasa berikutnya tidaklah sama. …(dalam) belajar bahasa pertama, kita memperoleh dasar untuk mengubah dan memadukannya dengan permainan bahasa lain” (Gadamer, 1976: xxxviii). Kemudian, lanjut Linge, pengaruh mazhab Hegelpada Gadamer hilang dalam diri Wittgenstein. Sekarang, Gadamerseiring dengan Wittgenstein, dan bertentangan dengan Hegel, dalam hal penolakan bahasa transendental, atau tata bahasa, atau pikiran absolut.

Ketika Gadamer menulis, “Hakikat linguistik yang melahirkan bahasa adalah sama dengan hakikat pengalaman manusia tentang dunia pada umumnya” (TM: 414).untuk sementara pembaca mengambil tesis tentang universalitas bahasa dalam arti bahwa bahasa, entah dalam arti bahasa yang ketat(berupa ujaran) maupun dalam pengertian yang lebih longgar (berupa gerak tubuh, mimik wajah, institusi, dan sebagainya). Ini semua adalah media sosialisasi, yang hadir di mana saja, dan media diri yang kemudian diletakkandalam aturan untuk mengekspresikan diri. Menurut Habermas, tampaknya inilah arti yang mendasar: bahasa adalah sejenis ideologi mengendap yang haru dikritik agar bentuk-bentuk yang rusak yang ada dalam penggunaannya dapat dideteksi. Kata Gadamer, Habermas memandang fungsi bahasa bersifat ‘reproduktif”, yang memberi ekspresi pada sebuah struktur yang, secara sadar atau tidak sadar, dicerna dalam diri pembicara dan yang boleh jadi merupakan suatu struktur yang rusak atau tidak rusak (bandingkan TM, Suplemen II: 493). Gadamer tadak mengingkarii bahwa bahasa yang tidak usah dipelajari dapat berfungsi dengan cara seperti itu, dan karenanya memerlukan kritik. Akan tetapi, bukan itu yang dimaksudkannya. Bagi Gadamer, bahasa pada dasarnya bukanlah suau ttindakan yang memberikan ekspresi pada struktur yang ada sebelumnya. Bahasa ini bukan dalam arti “reproduktif”, tetapi dalam cara yan lebih dekat dengan pemikiran Wittgenstein, yaitu bahasa yang mempunyai sifat “produktif”. Kritiknya terhadap prasangka lawan ‘prasangka’, di mana orang melihat bahwa prasangkamempunyai sifat yang murni negatif dan restriktif, yang berlaku di sini. Keberadaan bahasa yang mendasar adalah “anggapannya tentang makna pada umumnya” dan “ determinasi eksplisit dari apa yang diandaikan seseorang” (TM” Suplemen II: 497).pemilihan kata-kata yyang ada dalam pikiran seseorang adalah suatu “determinasi eksplisit”, tetapi ini bukan berarti alat: “determinasi” seseorang, di dalamnya tidak [unya catatan tentang penguasaan;dalammengasumsikan sebuah kata orang menemukan bahwa “Anda tepat dalam suatu arah pemikiran yang datang dari jauh dan terentang di luar Anda” (TM: 496).

Gadamer menggambarkan pemikirannya dengan mencatat cara-cara yang bertentangan di mana ada pengalaman bahasa sasat kita menerjemahkan dengan saat kita dengan bebasmengekspresikan diri (bandingkan Gadamer, 1976: 86-87, 65-68). Dalam kasus pertama, kita merasa terkurung oleh tuntutan bahasa asing, dan kita sangat saadar akan pencarian kata-kata yang benar. Kita memeriksa terus usaha melawan tuntutan teks asing. Tetapi, bila kita bebas mengekspresikan diri, hal ini akan tampak khususnya bila toik yang akan ddibicarakan dapat kita rasakan dengan sungguh-sungguh, dengan demikian kita berusaha menjauhi pemilihan sadar terhadap berbagai istilah dan mencoba membiarkan pikiran kita yang belum terbentuk untuk menemukan ekspresinya sendiri. Seolah-olah kita ingin mengemukakan bahwa bahasa berbicara melalui kita.

Karenanya, Gadamer berpihak pada Plato dan melawan Cratylus ketika Plato berargumen bahwa “dialog dalam batin dengan diri sendiri” bukanlah ssuatu yang dapat dilaksanakan pada tataran kata-kata. Plato masih juga salah dalam mengandaikan bahwa tanda mempunyai suatu sistem idealyang memberi kekuatan pada kata-kata (bandingkan TM: 366-375). Hal ini tidak akan menjawab persoalan sebenarnya tentang hubungan antara kata dan benda. St. Thomas Aquinas mempunyai tesis yang lebih baik. Dibimbng oleh gagasan Kristen tentang logos yang menjadi daging (manusia, peny.) ia melihat bahwa logos dapat dibebakan dari paham Plato yang melihatnya semata-mata sebagai roh dan dengan demikian logos menjadi historis, yaitu menjadi “peristiwa” (TM: 379). Aquinas menerapkan pandangan ini pada kasus menusia membentuk konsep universal dan menggunakan citra sebuah cermin, yang juga diambil oleh Gadamer untuk menjelaskan tesisnya.

“Kata bagaikan sebuah cermin di mana objek terlihat. Akan tetapi, yang mengundang rasa ingin tahu dari cermin ini adalah bahwa ia tidak meluas melampaui citra obyek” (TM:384). Cermin khusus ini menyelesaikan sendiri dalam tindakan representasinya. Berbagai kekurangan yang ada di dalamanya barangkali mendistorsi obyek atau realitas yang terlihat, tetapi kita tidak mengetahuinya dari pencerminan itu sendiri.

Fungsi pencerminan itu adalah apa yang dimaksudkan oleh Gadamer sebagai “sifat linguistik” manusia, daan bukan refleki yang khusus. Kata itu sendiri dipilih karena, katakanlah, lebih baik daripada istilah “politik”-nya Aristoteles, istilah “pikiran”-nya Hegel, atau istilah “kesadaran historis”-nya Dilthey. Semua itu mengekspresikan hakikat manusia sebagai tempat yang aktif atau produktif di mana realitas muncul sebagai obyek. Semantik, kreatifitas, dan penafsiran didasarkan pada data ontologis ini. “Realitas yang dapat dipahami adalah ‘bahasa’, “kata Gadame dalam sebuah frase yang menjadi label tesisnya, (TM: 432).

Ada cara lain yang membatu untuk menjelaskan pandangannya (bandingkan TM: 439). Ia memilih sebuah tema kuno, yaitu analogi kebenaran dengan cahaya. Cahaya itu sendiri tidak dapat dilihat tetapi hanya dipanulkan dari permukaan yang dikenainya. “Cahaya”, kita dapat memparafrasekannya, “yang dapat dilihat adalah permukaannya”. Seorang manusia yang “disituasikan” (sebagai sebuah texs khusus adalah sebagai permukaan yang khusus). tiNdak memahami adalah suatu peristiwa yang melibatkan sifat pasive jenis ini (bandingkan pm: 422). Penafsira adalah terang (pancaran) dari tindak pemahaman. Hal ini menunjukan “kesadaran historis efektive” dari pemahaman, yaitu bahwa ia “tidak mempunyai objek konkritnya sendiri, namun ia seakan-akan memantulkan kembali citra yang sampai kepadanya” (TM: 431). Gabungan nada pasive dan struktur cahaya membawa kita kepada penomena permainan.

Apa yang kami maksudkan dengan kebenaran disini dapat ditentukan lagi dalam arti konsep permainan…. Permainan bahasa adalah dimana kita, sebagai orang yang belajar-dan kapan kita berhenti menjadi pelajar? – berkembang menjadi pemahaman tentang dunia… adalah permainan itu sendiri yang dimainkan oleh para pemain kedalam dirinya. Dengan demikian menjadi permainan dengan subjektum yang aktual. Apa yanga sesuai dengan ini sekarang tidak bermain dengan bahasa, dan juga tidak sesuai dengan isi pengalaman tentang dunia atau tradisi yang diturunkan kepada kita. Tetapi permainan bahasa itu sendiri yang ditujukan kepada kita, mengajukan dan menarik diri, bertanya dan memenuhi dirinya dalam jawaban itu. (TM: 446)

Kunci untuk memahami posisi Gadamer adalah memahami apa yang dilakukanya terhadap pandangan Hedeger tentang konsep waktu (temporalitas). Pandangan hipotesis yang diuji oleh Heideger dalam karyanya (Being and Time) hakekatnya mencegah adanya semantik murni dan secara a fortiori, latihan bentuk yang formal murni. Yang memungkinkan adalah sebuah pendekatan deskriptif untuk menguraikanya. Tetapi bahasa deskriptif terkenal bersifat metaforis bagaimanapun juga, tidak ada jalan lain untuk menelusuri pengaruhnya, sekaligus menghormati status awal hipotesanya. Barangkali metapora berikut ini dapat membantu menjelaskan posisi Gadamer.

Andaikan ada dua orang yang saling mengenal sedang duduk berdekatan dirumput diluar ruang kelas. B menoleh kepada A dan bertanya, “jam berapa sekarang?” A melihat arlojinya dan menjawab “jam dua kurang lima menit”

Kita andaikan bahwa A bukanlah orang yang tertarik kepada waktu. Ia memperhatikan waktu, karena perhatianya ditarik oleh pertanyaan tentang waktu. Posisi tangan dipermukaan arlojinya dengan semangat yang sama dengan sewaktu ia mungkin memperhatikan bahwa ada satu retakan ditrotoar atau ada kelelawar terbang disekitarnya perhatianya terhadap waktu tidak mengarah kemanamana tidak mempunyai hubungan, terisolasi, bersifat atomik dan tidak produktif inilah arti yang paling netral dalam “waktu jam”.

Akan tetapi B akan menempuh ujian penting pada jam dua, dan inilah pengertian yang lebih penting dari waktu jam. Karena dapat diterapkan atau signifikan dengan waktu jam yang ada dalam salah satu proyek kehidupan B. tetapi proyek ini adalah proyek yang sengaja diambil oleh B ia tidak harus melakukan, tetapi dilaksanakanya. Dan dari keputusan ini waktu jam mengandaikan suatu nialai penting yang sebaliknya tidak dimiliki.

Kini andaikan, ada C yang duduk tidak terlihat dan tidak jauh dari dua orang yang disebut tadi tetapi masih dalam jarak pendengaran. C telah mengetahui sesaat sebelumnya bahwa ia tidak akan hidup lebih lama lagi. Prospek kematian membuat C sadar akan adanya suatu dimensi waktu yang sama sekali berbeda, baginya, waktu adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupanya, dan berjalanya proyek itu, tidak dikomentarinya, sekalipun ia dasar dari proyek lainya. Keberadaan dan temporalitasnya tidak hanya tanda dalam kalender, sebagai mana halnya durasi musik dalam radio kecil dan kehidupan baterai yang memasok energi bagi reproduksinya: keduanya adalah hal yang sama.

Gadamer mengatakan, bahwa sifat linguistik manusia sama dengan temporalitasnya. Bahasa asli bagi seseorng sama dengan bagia A dan B, sebuah alat yang terkadang tidak dipergunakan terkadang tidak dapat diabaikan. Tetapi bagi seseornang diam mutlak, Dan mutlak tidak berekpressi adalah seperti kematian bagi C. “berbahasa dalam pengertian yang lebih dalam ini sama dengan kehidupan.

Karena itu, bagi Gadamer bahasa adalah waktu, eksistensi manusia, keberadaan, dan kebenaran. Bahasa adalah kejadian tentang segala sesuatu yang bermanfaat, tentang segala susuatu bagi kita, karena kita “ terlemmpar kedalam bahasa” , yang terjadi diluar keinginan dan diatas tindakan kita. Akan tetapi bahasa tidak terjadi tanpa kita seperti dalam kasus memainkan permainan, dalam kasus menciptakan atau mengapresiasi suatu objek seni kasus membuat komposisi atau membaca sejarah. “sifat linguistik” seseorang adalah permukaan tempat kebenaran itu bermain, dan merupakan tempat satu-satunya ia dapat tampak. Gadamer berpendapat bahwa seseorang harus mempunyai kontrol yang “benar” terhadap perkembangan berbagai metode, dan juga sebuah filsfat untuk meletakan metode itu ditempat efistemolotiginya yang benar tugas negatif dari filsfat hermeneutika, seperti telah diperlihatkan berbeda dari prtensi ilmu yang mempertanyakan bagaimana kemungkinan kebenaran dapat timbul sebelumnya dan diandaikan oleh kemungkinan yang diberikan metode. Tugas positive filsafat ini adalah menunjukan bagaiman kemungkinan kebenaran menjadi kenyataan dalam eksistensi linguistik yang tidak lain adalah manusia.

Penunjukan teks ke teks lain: hubungan intertekstual

Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw: 1981: 11) termasuk sastra. Karya sastra itu termasuk sebuah response (Teeuw, 1983; 65) pada karya sastra yang terbit sebelumya oleh karena itu sebuah tek tidak dilepaskan sama sekali dari tek yang lain. Sebuah karya sastra baru mendapatkan maknanya yang hakiki dalam kontrasnya dengan karya yang sebelumnya (Teeuw, 1983: 66). Tek dalam pengetian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya tek tertulis atau tek lisan. Adat istiadt, kebudayaan, film, drama, secara pengertian umum adalah tek. Oleh karena itu karya sastra tidak dapat lepas dari hal-hal yang menjadi latar penciptaan tersebut baik secara umum atau pun khusus. Untuk mendapatkan dan menapsirkan response itu adalah meruupakan tugas pembaca (Teeuw, 1983:65), termasuk pembaca adalah peneliti sastra.

Julia Kristeva (Culler, 1977:193) mengemukakan bahwa tiap teks itu, termasuk teks sastra merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transpormasi teks-teks lain. secara khusus, ada teks tertentu yang menjadi latar penciptaan sebuha karya disebut hipogram oleh Riffaterre (1978: 11,23) sedangkan teks yang menyerap dan mentransportasikan hipogram itu dapat disebut sebagai teks transpormasi. Untuk mendapatkan makna hakiki tersebut digunakan metode intertekstual, yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan sebuah teks transpormasi dengan hipogramnya. Misalnya tampak bahwa sajak karya Khairil Anwar itu merupakan transpormasi sajak-sajak Amir Hamjah (Pradopo, 1990: 230-246). Begitu juga dibawah lindungan ka’bah itu meruupakan hipogram bagi ateis, dan gairah untuk hidup dan gairah untuk mati (Pradopo, 1987:39-51) dan layar terkembang merupakan hipogram bagi belenggu (Pradopo, 1990: 31-52).
Pembacaan Semiotik: Heruistik dan Hermeneutik atau Retroaktif.
Untuk dapat memberi makna sajak secara semiotikpertama laki dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Riffaterre, 1978: 5-6).
Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang berdasar struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang (retroaktif) setelah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.

Pembacaan heuristik pada sajak dan cerkan pastilah sedikit berbeda meskipun pada prinsipnya sama. Hal ini disebabkan cerkan bahasanya tidak begitu menyimpang dari tata bahasa baku. Pembacaan heuristik cerkan adalah pembacaan “tata bahasa” ceritanta, yaitu pembacaan dari awal sampai akhir cerita secara berurutan. Untuk mempermudah pembacaan ini dapat berupa pembuatan sinopsis cerita. Cerita yang beralur sorot balik (dapat) dibaca secara alur lurus. Pembacaan heuristik itu adalah penerangan terhadap bagian-bagian cerita secara berurutan. Begitu juga, analisis bentuk formalnya merupakan pembacaan heuristik.

Pembacaan Heuristik

Dalam pembacaan heuristik ini, sajak dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti bilamana perlu diberi sisipan kata atau sinonim kata-katanya ditaruh di dalam tanda kurung. Begitu juga, struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku (berdasarkan tata bahasa normatif); bilamana perlu susunannya dibalik untuk memperjelas arti.
Tentu saja pembacaan heuristik ini belum memberikan makna sajak yang sebenarnya. Pembacaan ini terbatas pada pemahaman terhadap arti bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama, yaitu berdasarkan konvensi bahasanya.

Pembacaan Retroaktif atau Hermeneutik

Pembacaan heuristik harus diulang kembali dengan bacaan retroaktif dan ditafsirkan secara hermeneutik berdasarkan konvensi sastra (puisi), yaitu sistem semiotik tingkat kedua. Kenvensi sastra yang memberikan makna itu diantaranya konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi ) sajak, seperti telah diucapkan dimuka.

Kesimpulan
Kini tiba saatnya untuk menarik beberapa kesimpulan. Saya akan melakukannya dengan menggunakan apa yang disebut sebagai pendekatan “sangat tinggi, dengan menunjukknan secara singkat beberapa bentuk hermeneutika yang paling menonjol, disertai dengan kelemahan dan kekuatannya.

Eksplanasi dan Pemahaman

Marilah kita memulai dengan mengingat kembali beberapa bentuk umum dari hubungan antara eksplanasi dan pemahaman.

Ciri pertama: pengalaman memberi tahu kita bahwa pengetahuan tentang sesuatu meibatkan berbagai aktifitas mental, strategi, dan resolusi. Salah satu segi yang lazim dikenal dalam pengalaman kita adalah arti kemapanan tentang suatu masalah, semacam pembenaran, sekalipun mungkin bersifat tentatif, yang masuk dalam kegiatan meneliti atau merefleksikan sesuatu. Misalnya, pengalaman saat kita mengatakan bahwa jika kita mengetahui bahwa A mengimplikasikan B dan juga karena A itu, maka kita mengetahui B; atau, ketika kita tahu bahwa jika memakan tiram ini, kita akan sakit sebelum keesokan harinya; atau saat mendengarkan orang mendiskusikan usulan politik, atau suatu masalah pribadi, film, permainan kejuaraan atau ketika kita mengatakan bahwa kita tahu apa yang dimaksud (atau “mengerti” apa yang mereka maksudkan, atau “memahami” apa yang mereka maksudkan). Perhatikan bahwa, dalam contoh-conto terakhir ini, tidak penting bahwa kita setuju dengan pandnagan yang dikemukakan (atau merasa nyaman dengan pandangan seperti itu) supaya ada pengalaman dalam kemapanan mental ini.

Jika hal di atas dapat diterima sebagai contoh keputusan yang biasa dari kebingungan mental kita , maka harus kita perhatikan bahwa strategi-strategi yang dgunakan untuk mencapai keputusan itu sangat berbeda. Dua hal pertama tergantung pada strategi deduksi atau induksi. Contoh yang terakhir seig melibatkan sebuah wacana yang kelihatannya mirip sebuah negoisasi daripada hal yang lainnya, di mana A mengatakan “ini” dan B mengatakan, “Tetapi bagaimana dengan “itu”? dan A menjawab, “Baik, tetapi ini lebi sesuiai dengan Ini dan ini” dan seterusnya. Pada akhirnya B mengatakan , “Ya, baik, sekarang saya mengerti apa yang Anda maksudkan” dan oleh jadi ia menambahkan, “…sekalipun saya masih belum yakin apakah saya setuju.” Jelas bahwa dua strategi pertama mengelompok di sekeliling kutub pengetahuan yang kita sebut “eksplanasi” dan contoh yang ketiga ada di sekeliling kutub yang disebut “pemahaman”.

Demi kebutuhan pernyataan itu, mari ita terima perbedaan kasar ini dalam epistemologi dan, dalam langkah kedua, yang mempertanyakan secara abstrak hubungan-hubungan yang mungkin terjadi di antara dua kutub ini. Kita menggunakan tabel berikut untuk menggambarkan berbagai kasus, di mana “Ya” mengakui jarak perbedaan pengetahuan dan jarak kemampuan pengetahuan dan “Tidak” perbedaan itu:

Kolom A Kolom B
Eksplanasi Pemahaman
(1) Ya Ya
(2) Ya Tidak
(3) Tidak Ya
(4) Tidak Tidak

Baris (4) dapat dianggap sebagai skema skeptisisme yang radikal. Apakah setiap epistemologi sekarang seperti ini? Mingkin, tidak. Hanya saja, perlu dicatat bahwa, di beberapa tempat, ada pembaruan terhadap perhatian bagi serangan mazhab Nietzsche terhadap bentuk pengetahuan yang “Apolonian”. Habermas berpendapat bahwa dalam kasus Nietzsche sendiri, “ahli filsafat Jerman dengan martil,” berpraduga bahwa filsafat ilmu positivistik abad ke-19 menyatakan secara memadai syarat-syarat suatu kebenaran. Mencatat bahwa konsep seperti itu tidak dapat menyajikan suatu pengantar bagi kehidupan, Nietzsche berputus asa bukan hanya karena kebenaran dalam ilmu, tetapi juga karena kebenaran tout court (bandingkan KI: 290-300). Dengan menyebut contoh yang masih hangat, suatu kecenderungan tampaknya hadir dalam karya mutakhir ahli filsafat Perancis, Michel Foucault, yang menyebut bukunya sendiri sebagai “buku fiksi” dan sebagai “pisau operasi, bon molotov, atai daerah ranjau” yang ingin “menghancurkan diri setelah digunakan, seperti petasan” (bandingkan Megill, 1975, khususnya: 492-503).

Baris (3) dapat dianggap sebagai skema bagi romantisisme. Shelley dapat menyajikannya sebagai analogi puitik untuk filsafat Schleiermacher:

Engkau punya suara, gunung besar, untuk mencabut
Sandi agung dari kegelapan dan kemalangan; yang tidak dipahami
Oleh semua orang, tetapi yang ditafsirkan, atau
Dibuat terasa, atau benar-benar dirasakan oleh
Orang-orang bijak, agung, dan baik (Mount Blanc)

Beberapa ahli filsafat agama mengadopsi pola ini: “Apa manfaatnya bagi kita akan pengethuan tentang hal-hal seperti itu, karena tidak akan membantu pada Hari Kiamat bila kita mengetahuinya, dan juga tidak akan merugikan kita bila kita tidak mengetahuinya?” tulis pengarang Imitation of Christ.

Ahli fisafat Denmark abad ke-19, Kierkegaard, mungkin adalah seorang Romantik seperti itu. Akan tetapi, dalam karyanya ada sesuatu yang lain selain sekedar penolakan atas kebenaran. Dalam buku hariannya Kierkegaard menulis:
Saya dituduh menyebabkan anak muda menyetujui subyektifitas tanpa membantahnya sama sekali. Barangkali hanya untuk sesaat. Akan tetapi, bagaimana mungkin dapat menghilangkan seluruh hantu obyektifitas yang bertindak sebagai penonton kecuali dengan tekanan kategori individual yang terpisah. Di bawah dalih obyektifitas, tujuannya adalah mengorbankan sifat individual. Itulah inti persoalannya.(Kierkegaard, 1960: 101-102).

Kierkegaard mengingattkan kita bahwa isu dalam baris (3) tidak dalam diagram komposisi datar dari “Ya” dan “Tidak”. Hibungan antara kolom A dan B lebih halus dan lebih menantang. Keirkegaard mencoba menyingkapkan apa yang merupakan elemen kuni dalam tiap epistemologi: hubungan antara yang universal dan yang partikular, yang bersifat umum dan yang individual, dan hubungan antara teori dan praktik. Baris (3) sesungguhnya mengekspresikan satu arah dan hierarki antar kolom A dan B. lebih tepatnya, baris ini harus dibaca sebagai berikut:

(3) Tidak Ya
Baris (2) dapat dianggap sebagai skema untuk monometodologisme. Jika kita mengingat kembali analogi “cangkir kopi” yang disebutkan dalam bab pendahuluan, maka kita ingat kembali bahwa aktifitas mental yang mengelompok di sekitar kutub pemahaman, dipandang sebagai stimulus atau mungkin formulasi awal dari sebuah pemikiran, yang kemudian diambil alih oleh aktifitas eksplanasi. Maka, baris itu lebih tepat dilukiskan sebagai berikut:

(2) Ya Tidak
Baris (1) dapat dianggap sebagai skema filsafat hermeneutika kontemporer. Dalam pikiran para pengarang yang diulas di sini, ada hubungan konstruktif antara dua sisi itu. Hal ini boleh jadi merupakan cara pemikiran “lingkar hermeneutika” lain yang ada pada tataran umum dan bukan hanya pada tataran komunikasi khusus tertentu. Yang jelas, pilihan terminologi untuk menamai pandangan seperti itu adalah “dialektika”. Baris itu dapat dibuat dalam diagram seperti ini:
(1) Ya Ya
Dialektika kedua anak panah ini dimaksudkan untuk menunjukan tiga aspek penting dalam hermeneutika kontemporer.
Pertama, bahwa tidak ada suatu pengetahuan tanpa pra-anggapan. Di satu sisi, hermeneutika beranggapan bahwa kepentingan yang bertujuan dan kepentingan yang dibuat dengan sengaja secara inheren termasuk dalam kajian ilmu-ilmu fisika. Di sisi lain perilaku bak yang dapat dinamakan maupun yang tidak, dari sistemalam, secara inheren kita menggambarkan tujuan dan memilih sarana untuk membuhakan hasil.

Kedua, apabila tdak ada sikap yang seragam dari mana pemikiran dimulai, maka tidak pula ad terminologi yang seragam untuk mengakhirinya. Hermeneutika ingin memikirkan kembali logika dialektika Hegel, tetapi tidak untuk menerima kesimpulannya pemikiran absolut. Pendirian anti-idealis dialektika kontemporer ini berarti bahwa hermeneutika menerima kemungkinan yang tidak dapat direduksi baik dari strategi pemikirannya maupun dari realitas itu sendiri. Bagaimanapun juga, ada semacam kebenaran yang dapat muncul,, yaitu suatu kebenaran atau kepastian yang menadaptasi sebuah von Wright. Frase ini sebagian didasarkan pada kepercayaan (bahwa kita dapat membuat dunia berbeda dari apa adanya) dan sebagian lainnya pada ketidak tahuan (tentang kadar dimana hubungan sebab akibat beroperasi di dunia); keduanya menggoda orang untuk menambahkan sebagian pada apa adanya dan sebagian pada ketidaadaan.

Ketiga, maksud kedua anak panah menunjukkan pengakuan hermeneutika bahwa ada itensi dan intensi itu bekerja serta efektif pada kedua sisi tabel pada dialektika. Keefektifan ini dapat tetap ada dalam kondisi sosial penelitai(bandingkan Habermas dan Winch) atau dalam logika aktifitas penelittainnya (bandingkan von Wriight), atau dalam pilihan diajukan terhadap pengalaman (bandingkan Gadamer). Masalahnya adalah, apakah kita harus punya cara untuk merneungka fungsi intensi dalam bentuk yang perannya berbeda. Jika kita tidak memiliki cara itu, maka tentu saja tidak ada Baris (1), dan kita kembali pada sebuah pilihan diantara positivisme, romantisisme, atau skeptisisme. Demikianlah makalah tentang Hermeneutika Ontologis Gadamer.